Renungan

Jaga Langkah Kaki

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: … kaki yang segera lari menuju kejahatan.

(Amsal 6:16-18)

A, seorang siswa SMA, sakit hati mendengar kemarahan sang guru kepadanya. Guru itu menegur A karena beberapa kali terlambat masuk ke sekolah. Suatu saat A terlambat masuk kelas, dan guru pun marah. A meninggalkan kelas dan beberapa jam kemudian kembali ke sekolah. A menemui guru yang tadi memarahinya. Tanpa banyak bicara, A pun berkali-kali membacok sang guru. Syukurlah ada yang menghentikan tindakan A. Guru itu segera dilarikan ke rumah sakit, sementara A akhirnya dilaporkan ke polisi. Guru itu pun segera pulih, namun A harus mendekam di penjara selama beberapa bulan. Hilang sudah harapannya untuk lulus sekolah karena tak mungkin mengikuti ujian dalam waktu dekat.

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: … kaki yang segera lari menuju kejahatan” (Amsal 6:16,18).

Perhatikanlah frasa “kaki yang segera lari menuju kejahatan”. “Segera lari” menunjukkan intensitas tindakan untuk melakukan kejahatan secepat mungkin. Apabila suatu tindakan dilakukan secepat mungkin, maka biasanya hal itu tidak berasal dari pemikiran yang matang dan mendalam. Karena terbakar emosi, orang dapat lepas kendali dan melakukan hal yang jahat. Bisa juga ada orang-orang tertentu yang sudah terbiasa dengan kejahatan. Bagi orang seperti ini , melakukan kejahatan adalah pilihan tindakan yang pertama.

Dalam realitas kehidupan, kita menjumpai bahwa tidak semua perilaku kejahatan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Ada yang lolos dari mata hukum, tetapi  tentu saja takkan pernah lolos dari mata Sang Pencipta.

Jagailah langkah kaki kita agar ketika hati terbakar emosi, jangan sampai lepas kendali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *