Renungan Berjalan bersama Tuhan

Jangan Ada Perkelahian

Jangan Ada Perkelahian

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Kejadian 13:1-12

Setiap orang pasti tidak suka dengan perkelahian. Suatu perkelahian, yang menimbulkan konflik yang tajam dan menyakitkan hati, tidak dapat dihapus atau dilupakan begitu saja. Sejujurnya, semua orang pasti menghindari perkelahian di antara sesamanya, apalagi di antara sanak famili atau keluarga. Namun, dalam realitas hidup, kita kerap menjumpai perkelahian yang justru terjadi di antara kerabat terdekat, seperti antara orangtua dengan anak atau sebaliknya, antara saudara kandung atau famili, antara rekan kerja. Mereka bisa menjadi musuh bebuyutan! Apa yang menyebabkan perkelahian itu muncul dalam kehidupan manusia? Alkitab mencatat bahwa salah satu pemicu perkelahian adalah masalah pekerjaan! Ini menyangkut urusan bisnis yang mendatangkan keuntungan, kekayaan yang dikumpulkan dan dimiliki, dan persoalan lahan kerja. Bisnis Abraham dan Lot semakin besar dan mereka berada di lahan yang sama. Ternyata pegawai mereka saling berebut lahan sehingga terjadilah perkelahian setiap saat. Abraham melihat hal itu tidak sehat.

Maka dari itu, Abraham mengambil inisiatif untuk mengundang keponakannya dan membereskan persoalan bisnis ini dengan baik dan penuh kasih. Abraham memberikan jalan keluar bukan hanya untuk masalah bisnis dan mendapatkan keuntungan atau kekayaan, tetapi juga jalan keluar yang mengandung nilai yang jauh lebih berharga daripada nilai bisnis atau keuntungan dan kekayaan yang didapatnya. Nilai itu jauh lebih berharga daripada nilai materi; karena bagi Abraham nilai materi itu sangat mudah didapatkan daripada nilai relasi kekeluargaan atau kekerabatan.

 

Abraham berkata, “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat” (Kejadian 13:8—penekanan kata bercetak miring ditambahkan penulis). Abraham sebagai paman Lot tentunya lebih berpengalaman daripada yang muda. Ia lebih menganggap nilai-nilai persaudaraan lebih tinggi daripada segala yang ada di dunia ini. Pada umumnya generasi tua lebih menghayati makna persaudaraan daripada generasi muda yang lebih egois. Keegoisan itu tentunya terjadi karena adanya perubahan-perubahan situasi, lingkungan, budaya, dan pengaruh-pengaruh pergaulan yang menciptakan suatu kehidupan yang individualistis. Abraham menyadari hal itu dan Lot juga menyadarinya sehingga mereka rela untuk berpisah lokasi, tetapi masih dekat di hati; daripada dekat secara fisik tetapi saling bertengkar. Nilai persaudaraan lebih mahal daripada apa pun. Marilah kita terus menjaga nilai persaudaraan, kekerabatan dalam relasi yang tidak bisa dibandingkan dengan materi. Amin.

 

Pokok Doa:

  1. Tuhan, jadikan aku sebagai orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan kekerabatan melebihi semua nilai materi, bisnis, dunia kerja, keinginan untuk meraup keuntungan, dan sebagainya. Ajarlah aku untuk saling mengasihi sesamaku dengan kasih-Mu.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai umat-Mu untuk terus memperjuangkan nilai persaudaraan yang jauh lebih berharga daripada nilai materi. Pimpinlah lembaga-lembaga Kristen yang berkiprah dalam pelayanan supaya tidak direnggut oleh keegoisan pribadi yang mementingkan diri sendiri sehingga merusak relasi persaudaraan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *