Khotbah Perjanjian Baru

Jangan Lelah Melayani Tuhan

Pdt. Yakub Tri Handoko

Wahyu 3:1-6

Ada beragam alasan mengapa seseorang atau sebuah gereja berhenti memberikan pelayanan yang terbaik kepada Tuhan. Salah satunya adalah ketidaksempurnaan cara dan hasil pelayanan mereka. Situasi ini membuat mereka menjadi putus asa. Melalui khotbah hari ini kita akan belajar bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berbenah diri dan terus mencoba memberikan yang terbaik kepada-Nya. Gereja Sardis tidaklah sempurna. Walaupun demikian, Tuhan terus menasihati mereka untuk menjadi lebih baik.

Siapakah Kristus Sang Kepala Gereja? (ayat 3:1a)

Dalam setiap pendahuluan surat kepada tujuh jemaat di Wahyu 2-3, Tuhan Yesus memperkenalkan diri secara khusus sesuai dengan situasi jemaat yang dituju. Kepada jemaat Sardis Ia mengungkapkan diri-Nya sebagai pemegang tujuh roh. Angka tujuh di sini bukan secara hurufiah (jumlah tujuh), tetapi menyiratkan kesempurnaan (bdk. 1:4). Roh Kudus adalah Roh yang sempurna dan menyempurnakan. Ia diutus ke dalam dunia untuk mengamati (5:6) sekaligus memurnikan (4:5). Dalam konteks jemaat Sardis yang keadaan dalam berbeda dengan keadaa di luar (1:2), sangat relevan apabila Tuhan Yesus memperkenalkan diri sebagai pemegang Roh Allah yang memurnikan.

Yesus juga sebagai pemegang tujuh bintang. Yang dimaksud dengan tujuh bintang adalah tujuh malaikat jemaat (1:16, 20; 2:1). Walaupun beberapa penafsir menduga malaikat jemaat adalah benar-benar malaikat, namun kita sebaiknya memahaminya sebagai para pemimpin jemaat. Kalau Tuhan Yesus memegang para pemimpin jemaat, ini menunjukkan perlindungan sekaligus kekuasaan Tuhan atas jemaat. Yang empunya gereja adalah Tuhan Yesus, bukan para pemimpin rohani.

Yesus juga sebagai Allah yang mahatahu (“Aku tahu…”). Ia tahu apapun yang dikerjakan jemaat Sardis. Bahkan tatkala orang lain tidak mampu melihat yang sebenarnya, Kristus mengetahui apa yang terjadi (ayat 1b). Ketika hanya ada sedikit jemaat yang masih loyal kepada kebenaran, Kristus juga mengetahuinya (ayat 4). Di bagian lain dijelaskan bahwa Kristus ada di tengah-tengah kaki dian (1:12-13, 20) dan berjalan di antara mereka (2:1), karena itu Ia mengetahui detil keadaan setiap jemaat.

Penilaian Kristus (ayat 1-2)

Di mata Kristus yang mahatahu, kebobrokan jemaat Sardis tidak dapat disembunyikan. Secara khusus ada dua negatif yang disorot di bagian ini. Pertama, reputasi positif jemaat Sardis tidak sesuai dengan realita dalam gereja (ayat 1b). Frase “engkau dikatakan hidup” menunjukkan bahwa penilaian positif ini tidak berasal dari jemaat Sardis sendiri atau dari Tuhan Yesus. Orang lain yang memberikannya. Fakta bahwa orang lain memberikan penilaian yang tinggi terhadap jemaat Sardis pasti bukan tanpa alasan. Mereka mungkin dulu memang terkenal karena kelebihan-kelebihan mereka. Tatkala situasi internal mereka sudah banyak berubah, orang lain tetap tidak mengetahui perubahan negatif tersebut, sehingga mereka tetap menganggap jemaat Sardis sebagai jemaat yang baik. Celakanya, ketidaksesuaian antara realita dan reputasi/identitas memang sering terjadi. Ada orang-orang tertentu yang menganggap diri orang Yahudi padahal mereka sebenarnya bukan (bdk. 2:9; 3:9).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *