Renungan Berjalan bersama Tuhan

Jangan Memuji Diri Sendiri

Jangan Memuji Diri Sendiri

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu. Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.” (Amsal 27:1-2)

Ada seorang guru Sekolah Minggu bernama Pak Habel, seorang yang sangat rajin dalam pelayanan pada masanya. Bahkan, sampai sekarang belum ada orang yang bisa “menandingi” pelayanannya. Boleh dikatakan Pak Habel melayani dengan all out, apalagi jika menghadapi anak-anak. Ia sangat mencintai anak-anak. Tidak tanggung-tanggung, sampai pada usia 70 tahun, ia masih mendampingi anak-anak Sekolah Minggu. Ia pernah berbagi pelayanan dan ia berkata bahwa suatu kali ia pernah cuti pelayanan selama 3 tahun. Pada masa itu, ia sama sekali tidak menginjakkan kaki di gereja karena ia merasakan kekecewaan yang sangat berat. “Saya menjadi seperti Yunus. Mengapa? Karena banyak teman yang juga kecewa kepada saya. Setiap kali pertemuan, saya selalu berkata, ‘Siapa di antara kalian yang dapat melebihi pelayanan saya adalah orang yang hebat, yang dipakai Tuhan.’ Kalimat ini sering saya katakan dalam berbagai pertemuan sehingga banyak orang yang menyayangkan.”

Memang, Pak Habel orang yang hebat, tetapi ia tidak perlu menceritakan kehebatannya ke mana-mana. Dengan bangga ia selalu menebar cerita kehebatannya. Ia bahkan selalu minta foto bersama sebagai kenangan atas keberhasilannya dalam melayani Tuhan. Puncaknya, dalam pertemuan raya Guru Sekolah Minggu, tak seorang pun bertepuk tangan untuk memberikan rasa hormat kepada Pak Habel. Saat itu juga ia meninggalkan pertemuan raya itu dan pulang dengan kecewa. Mulai saat itu, ia mengundurkan diri dari pelayanan, meminta cuti kepada Tuhan. Rupanya, cuti selama tiga tahun itu menjadi “sekolah” bagi Pak Habel, di mana Tuhan membentuknya.

Amsal mengatakan, “Janganlah memuji diri.” Ternyata selama ini banyak hal salah yang dilakukannya karena ia merasa bangga dengan dirinya sendiri, bangga dengan pelayanan yang selama ini dilakukannya. Dan, itu ternyata salah besar! Pak Habel baru sadar setelah sekian puluh tahun melayani. Ia mempunyai kerinduan bahwa keberhasilan dalam pelayanan itu karena dirinya sendiri. Saat itu Tuhan membentuknya menjadi orang yang rendah hati, yang tidak menonjolkan diri. Apa pun yang dilakukannya itu semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Kalau ia bisa melayani dengan baik dan menjadi berkat bagi banyak orang, itu hanya karena kesempatan yang Tuhan berikan. Pujian itu datang bukan dari diri sendiri, apalagi dari mulutnya sendiri. Pujian yang benar datang dari orang lain, bahkan itu ditujukan untuk kemuliaan Tuhan saja. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, tolonglah aku karena kadang kala aku tidak sadar bahwa aku memuji diri sendiri karena aku baik dan bertanggung jawab. Ampunilah aku, Tuhan. Ajarlah aku untuk terus menyadari bahwa apa yang aku raih dalam pelayanan dan pekerjaan semuanya itu hanya karena kasih karunia Tuhan.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja agar kami dapat memperlengkapi anggota jemaat sehingga mereka dapat melayani dengan baik. Demikian juga dengan motivasi pelayanan kiranya bukan untuk kepentingan diri sendiri atau kebanggaan diri, melainkan untuk kemuliaan Tuhan semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *