Renungan Berjalan bersama Tuhan

Jangan Mengutuki Ayah Ibumu

Jangan Mengutuki Ayah Ibumu

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Siapa mengutuki ayah atau ibunya, pelitanya akan padam pada waktu gelap” (Amsal 20:20)

Tidak salah kalau ada budaya yang sangat menghormati orangtua. Siapa pun yang lebih tua harus dihormati, yang artinya: mendengarkan nasihatnya, bersopan santun, menghargai pendapatnya, dan menempatkannya sebagai orangtua. Itulah budaya menghormati orangtua, karena merekalah yang melahirkan, mendidik, membesarkan, mempersiapkan kita menjadi orang yang dewasa, dan sebagainya. Kalau kita amati dengan baik, maka semua orang dengan budaya apa pun dan di mana pun, termasuk yang masih primitif, pasti menekankan betapa pentingnya menghormati orangtua. Tidak ada satu budaya pun yang mengajarkan untuk tidak menghormati orangtua. Selain itu, jika panggilan dan peran orangtua dapat dijalankan dengan benar kepada anak-anaknya, maka dampak yang akan didapat adalah anak-anak pasti akan menghormati orangtuanya. Jadi, anak itu harus u hauw (memberi rasa hormat) dan bukan puh hauw (anak yang kurang ajar kepada orangtuanya, tidak menaruh hormat tetapi berani membantah, berlaku kasar dan tidak sopan, selalu menyakiti hati orangtuanya).

Amsal juga mengatakan hal yang sama, “Siapa yang mengutuki ayah dan ibunya, pelitanya akan padam pada waktu gelap.” Dalam hukum Taurat dengan tegas dikatakan, “Siapa yang mengutuki ayahnya pasti dihukum mati” (Keluaran 21:17). Kata “mengutuki” berarti “mengumpat, mengata-ngatai dengan tidak  sopan, mencaci maki,  bahkan mengharapkan masa depannya mengalami malapetaka”. Jelas sikap ini sangat bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan. Itulah sebabnya hukum Taurat sangat menekankan pentingnya sikap hormat kepada orangtua. Siapa pun yang melanggar dan tidak melakukannya akan dihukum berat, yakni hukuman mati!

Apakah permasalahan utama yang membuat seorang anak dapat mengutuki ayahnya atau ibunya? Pasti ada pengalaman-pengalaman yang tidak enak atau yang menyakitkan, bukan? Rasa dendam dan kebencian selalu ada dalam hati sang anak. Pembalasan dendam, dan bukan  pengampunan, yang terus membara dalam hati sang anak. Rasa sakit hati yang terus dipelihara, dan bukan belas kasihan dan pengampunan, karena sang anak mempunyai pengalaman-pengalaman yang sangat menyakitkan hatinya. Ia tidak memperoleh kasih sayang dari ayah dan ibunya atau sejak kecil ia tidak pernah melihat contoh bagaimana menghormati orangtua. Apa pun pengalaman anak semasa kecil, ia  tetap harus menghormati ayah dan ibunya, terlepas dari banyaknya kelemahan mereka sebagai orangtua.

Amsal mengatakan bahwa orang yang mengutuki ayah dan ibunya, pelitanya akan padam. Artinya, bahwa seluruh hidupnya akan mengalami kegelapan. Orang yang berada dalam kegelapan pasti tidak bisa melakukan pekerjaan apa pun. Semua aktivitas akan berhenti total pada saat kegelapan melanda. Pelita yang menjadi satu-satunya alat untuk menerangi kegelapan justru akan padam. Itu menandakan adanya suatu kehidupan yang sudah mati karena sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan dan aktivitasnya. Di sisi lain, orangtua mempunyai kelemahan, keterbatasan, kesalahan, dan sebagainya. Namun, kelemahan dan kekurangan itu bukan menjadi alasan bagi anak untuk tidak menghormati orangtua. Hormatilah ayah dan ibumu, maka Tuhan akan memberkati Anda dan membuat panjang umur Anda di bumi. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *