Khotbah Perjanjian Baru

Jangan Takut

Namun yang perlu kita perhatikan, kalau kita merasakan ketakutan, jangan sampai ketakutan itu melemahkan, ketakutan itu melumpuhkan kita sehingga kita tidak berdaya menjalani kehidupan. Ini yang sangat membahayakan. Kita bisa memahami ketakutan itu ada di mana-mana. Ketakutan tidak akan memberi tahu lebih dulu ketika ia akan datang. Hei..aku adalah ketakutan, mau datang kepadamu, siapno awakmu. Tidak, Saudara! Ketakutan datang tiba-tiba, ujug-ujug… lho kok aku ndredheg ngene, aku wedi banget rek. Itu yang terjadi. Siapa sih yang tidak takut saat mengalami sakit, apalagi kalau sakitnya itu sudah parah, wis nemen? Siapa sih yang tidak takut jatuh miskin? Siapa sih yang tidak merasa takut saat dirampok? Apalagi kalau diperkosa. Ya, kita bisa mengalami trauma. Demikian juga kita takut kalau dibunuh. Kita akan merasakan ketakutan dalam banyak hal, termasuk juga ditolak… seperti anak muda takut ditolak cintanya. Bener tidak? Jujur, pasti takut!

Kegagalan juga sering kali membawa ketakutan di dalam kehidupan kita. Demikian juga kesepian. Takut karena kesepian ini biasanya dialami orang yang sudah tua. Di rumah sendirian,  ditinggal oleh anak-anaknya yang sudah berkeluarga dan jauh tempat tinggalnya. Orang tua ini akan mengalami kesepian, kesendirian. Dan itu membuat mereka takut. Kita bisa menambahkan daftar yang panjang apa-apa saja yang membuat kita merasakan ketakutan. Banyak sekali.

Saat ini kita diingatkan oleh Tuhan Yesus melalui Lukas 12 ayat 32: “Jangan takut hai kamu kawanan kecil, karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.” Dari satu ayat ini kita akan belajar untuk melepaskan diri terhadap serangan apa pun yang membuat kita takut. Dengan demikian, kita tidak lagi berlarut-larut menghadapi ketakutan di dalam hidup ini.

Mari kita melihat kalimat yang pertama: Jangan takut. Ojo padha wedi.

Saya bisa membayangkan dan sungguh-sungguh merasakan bahwa saat mengatakan jangan takut ini, Tuhan Yesus mengetahui apa yang menjadi ketakutan saya. Bayangkan, Saudara… kalau engkau sebagai seorang anak suatu ketika orang tuamu… bapak atau ibumu melihat engkau ketakutan dan ia mengatakan, “Jangan takut nduk, jangan takut le, jangan takut nak.” Apa yang kita pikirkan? Apakah kita percaya bahwa orang tua kita tahu apa yang menjadi ketakutan kita? Iya. Nah, itulah hal yang membuat kita tidak lagi merasakan ketakutan. Karena apa? Karena Allah tahu apa yang menjadi ketakutan kita. Merasakan bahwa Allah mengetahui ketakutan kita… kita menjadi ayem, ada damai sejahtera. Di saat aku merasakan ketakutan, ternyata Dia, Tuhanku, tahu persis apa yang aku takutkan.

Allah sangat memahami bahwa kita manusia gampang sekali merasa ketakutan. Oleh karena itu, di situ Tuhan tidak hanya berhenti mengatakan ‘Jangan takut’. Ojo padha wedi. Mari kita perhatikan kata-kata selanjutnya yang disampaikan Tuhan Yesus. Jangan takut hai kamu kawanan kecil. Nah, Saudara, saya mendapati kata kunci untuk menghadapi ketakutan ada pada kata kawanan. Kalau mendengar kata ‘kawanan’, menurut Saudara itu kawanan apa? Halo? Kawanan apa, Saudara? Kalau Tuhan berbicara hai kamu kawanan-Ku, apa maksudnya? Ada yang tahu? Ya, kawanan domba. Itu yang Tuhan maksudkan. Jangan takut hai kamu kawanan domba-Ku yang kecil. Ini yang pertama membuat kita tidak merasa takut karena kita tahu persis bahwa kita umat-Nya ini adalah kawanan domba-Nya.

1 thought on “Jangan Takut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *