Khotbah Perjanjian Baru

Jangan Takut

Pada saat semua harta yang sudah ia terima dari bapanya habis, menjadi penjaga babi dan makan ampas, anak bungsu itu kemudian berpikir, “Loh nek ndek kene aku mangan panganane babi. Di rumah bapakku gak kayak ngene, rek. Aku tak mulih wae neng omahe bapakku.” Sekarang Saudara perhatikan, apa yang diucapkan si anak ini saat ingin pulang. Dia mau jadi apa? Aku mau jadi seorang upahan bapa. Artinya apa, Saudara… Aku mau jadi kulinya bapaku saja. Saudara tahu yang dimaksud kuli ini? Nek kerja nggenah, baru dibayar. Kalau sudah kerja dengan baik, baru dibayar.

Saya melihat inilah yang sering kali terjadi di dalam rumah Bapa kita, bisa jadi di dalam gereja. Di dalamnya masih banyak kuli. Masih banyak orang upahan. Seharusnya ia adalah anaknya yang sah, tapi bertingkah laku seperti kuli. Tahu yang saya maksud, Saudara? Saudara hidup bersama orang tuamu, bersama bapakmu, tapi masih mengatakan, “Lho, Pak aku wis nyapu omah, bayarane endi, Pak?” Itu kuli atau anake, Saudara? Kuli. Dan yang membuat saya sedih banyak anak kecil yang dididik seperti itu, seperti kuli. Pak, mengko nek aku munggah kelas aku dihadiahi lho. Pola pikir kuli ini yang merusak kehidupan di rumah Bapa.

Sekarang, Saudara perhatikan bagaimana dengan si sulung di dalam perumpamaan itu. Kira-kira dia kuli juga apa ndak? Ya, kakaknya pun ternyata juga kuli. Dia sudah bersama-sama bapanya, serumah dengan bapanya, tapi pola pikirnya… mindset-nya masih kuli. Kata si sulung, “Lha aku kok ndak tau dipesta-pestano kayak adikku ngene, rek…” Apa jawaban sang bapa? “Nak, kamu sudah bersama-sama dengan aku, wis sak omah karo aku. Apa yang ada di dalam rumah ini, ya punyamu, milikmu, nikmati itu. Lha kok kamu mau berubah dari anak jadi kuli?” Ini yang bahaya Saudara. Oleh karena itu, kita harus meluruskan kembali hubungan kita di hadapan Sang Bapa.

1 thought on “Jangan Takut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *