Renungan Berjalan bersama Tuhan

Jauhilah Kejahatan

Jauhilah Kejahatan

oleh : Pdt. Nathanael Channing

 

“Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman” (Amsal 14:16).

Kata yang sering kita ucapkan setiap hari mungkin kata “hati-hati”. Saya katakan mungkin, karena memang belum melalui penelitian dan survei yang akurat. Namun, demikian tanpa melalui survei, bukankah kita sering mengatakan “hati-hati ya”! Hampir dalam setiap tindakan, secara sadar atau tidak, selalu terlontar kata awas, hati-hati. Terlebih lagi kalau orang itu penuh dengan kekhawatiran, pasti akan lebih banyak mengatakan kata-kata tersebut. Kata-kata itu diungkapkan karena ia yang kita kasihi akan pergi ke kantor, anak-anak kita ke sekolah, atau ada yang melakukan perjalanan luar kota, atau sedang mengendari mobil atau sepeda motor, menyeberang jalan, mau mengambil barang, dan sebagainya.

Tidak jauh berbeda dengan ungkapan dari Amsal, bahwa orang bijak dalam menjalani hidupnya sangat berhati-hati, bahkan menjauhi kejahatan. Dengan kata lain, orang yang bijak adalah orang yang memiliki kepekaan hati dan kepekaan sosial, sehingga ketika ia hadir di tengah-tengah masyarakat, ia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah; mana yang mendatangkan berkat baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain dan mana yang bisa melukai diri sendiri, terlebih lagi orang lain. Perbuatan yang tidak baik, yang membuat orang lain susah atau merugikan, adalah suatu kelakuan yang tidak benar. Mengapa? Karena kalau dijalani akan membuat orang lain terluka dan sakit hati. Ada yang menjadi korban dari tingkah lakunya. Sikap hidup demikian bisa disengaja maupun tidak disengaja. Tidak disengaja kalau memang terjebak oleh rekan, sahabat, bahkan saudara sendiri; atau disengaja, karena memang mau melakukan cara kerja atau menjalin relasi dengan keputusan etis yang tidak benar.

Maka bagi Amsal, seorang yang bijaksana akan bertindak dengan hati-hati. Berkebalikan dengan orang bebal, yaitu orang yang tidak mau belajar tentang kebenaran, bahkan orang yang berani melawan Tuhan, yang keras hatinya, tidak bisa menerima pendapat orang lain; bahkan terus merasa diri sendiri benar dan orang lain selalu salah. Orang bebal yang demikian selalu melampiaskan nafsunya, terutama nafsu keserakahan egonya yang tidak mau mengalah kepada siapa pun. Kelakuannya benar atau salah, sama sekali tidak dihiraukan. Ia tidak peduli dengan kata orang, sekalipun sudah menjadi batu sandungan dan merugikan orang lain. Amsal menilai, orang yang demikian pasti merasa tidak aman, bahkan merasa terancam, karena orang banyak tidak menyukai perbuatan yang dilakukannya. Orang yang bijak sangat memperhatikan apa yang dikerjakannya, tidak asal melangkah tanpa dipikir dengan matang. Maka orang bijak selalu hati-hati dalam bertindak. Amin.

 

Pokok Doa:

  • Tuhan, pimpinlah aku untuk terus belajar dalam perilaku dan tindakan yang kulakukan, agar semuanya dilakukan dengan hati-hati, tidak mengambil langkah tanpa dipertimbangkan dengan baik. Berikan aku hikmat, sehingga aku bisa berhati-hati dalam bekerja, melayani, atau bermasyarakat.
  • Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja agar berhati-hati dalam mengambil keputusan apa pun, baik untuk masalah intern maupun ekstern. Pimpinlah para penatua dalam menggembalakan jemaat Tuhan, supaya semua keputusan diambil dengan hati yang bijak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *