Renungan Berjalan bersama Tuhan

Jauhilah Kejahatan

Jauhilah Kejahatan

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur; siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya” (Amsal 16:17)

Apa yang ada di benak kita ketika mendengar kata “kejahatan”? Kita kerap memiliki pemahaman bahwa kejahatan itu dilakukan oleh orang-orang yang berkarakter keras. Mereka tidak bisa mengontrol amarahnya sehingga melakukan kekerasan, baik di dalam rumah tangganya maupun di dalam kehidupan bermasyarakat. Hal lainnya seperti mencuri, menipu, menodong, berjudi, bermoral rusak, bolak-balik masuk penjara, dan mengunjungi tempat pelacuran. Itulah orang-orang yang melakukan kejahatan. Kalau saya tidak melakukan hal-hal seperti itu, saya layak disebut sebagai orang yang baik. Apakah memang bisa dikatakan demikian? Tentu tidak, bukan?

Menurut Harry Blamires, dalam bukunya Christian Mind, ia mengatakan bahwa manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa adalah manusia yang sudah kehilangan kemuliaan Allah. Ketika manusia kehilangan kemuliaan Allah, seluruh hidupnya sebenarnya sudah dikuasai oleh kejahatan. Semua aspek hidup kita sudah dikuasai dosa. Bapak Gereja John Calvin mengatakan bahwa manusia yang berdosa senantiasa melakukan  hal-hal yang memang berdosa, tidak bisa melakukan hal-hal yang baik dan benar. Maka kejahatan itu sudah menjadi bagian dalam seluruh hidup kita.

Apa artinya “kejahatan”? Yaitu sikap hidup yang tidak sejalan dengan Allah; sikap hidup yang melawan Allah; sikap hidup yang mengandalkan kekuatan diri sendiri; sikap hidup yang tidak membutuhkan Allah. Maka dari itu, orang yang merasa dirinya baik dan benar, sesungguhnya ia sudah masuk dalam kejahatan. Jika ada orang yang tidak pernah merasa puas terhadap dirinya, itu juga sudah masuk dalam kategori kejahatan. Orang yang bekerja mati-matian dan hasil kerjanya hanya dipakai untuk membayar kredit yang begitu besar padahal ia sadar bahwa pengeluarannya lebih besar daripada pemasukan, maka orang itu juga sudah masuk dalam kejahatan. Ia sudah tidak lagi mengasihi dirinya sendiri dan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Amsal mengajak kita untuk menjauhi kejahatan, hiduplah dengan jujur, yang berarti hidup apa adanya, semua dijalani dengan rasa syukur kepada Allah. Menjauhi yang jahat termasuk meninggalkan hal-hal yang menjadi keinginan dan kepuasan kedagingan kita, membuang semua keserakahan dan ketamakan dalam hidup kita. Menjauhi yang jahat termasuk menjalani hidup yang penuh dengan rasa syukur karena Tuhan sudah mencukupkan berkat-Nya pada hari ini. Bukan ucapan syukur yang sekuler, yaitu kalau diberkati barulah berterima kasih kepada Tuhan. Sedangkan kalau mengalami musibah, kita marah kepada Tuhan dan tidak bersyukur kepada-Nya. Syukur yang sesungguhnya dilakukan dalam segala keadaan dan situasi yang kita alami. Orang yang menjauhi kejahatan adalah orang yang memelihara nyawanya karena di sana kasih karunia Tuhan menyertainya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *