Khotbah Perjanjian Lama

Jiwaku Haus kepada-Mu, Tubuhku Rindu kepada-Mu

Jiwaku Haus kepada-Mu, Tubuhku Rindu kepada-Mu

Pdt. Em. Stefanus Semianta

 

Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. 

Mazmur 63: 1-12

 

Berbicara tentang kehidupan di padang gurun, ada beberapa gambaran yang dapat kita  sampaikan, diantaranya adalah:

  1. Tempat yang panas dan kering kerontang di siang hari, namun bila malam tiba berubah menjadi dan berangin.
  2. Wilayah dengan garis batas yang tak terlihat oleh pandangan mata.
  3. Daerah yang penuh debu dan pasir, tanpa ada pepohonan dan tembok bangunan apa pun sebagai tempat berlindung.

 

Andaikata kita berada pada padang gurun tandus semacam itu, kebutuhan apa yang paling kita perlukan? Tentunya air yang menyegarkan, tempat naungan yang teduh dan tempat berlindung yang aman.

Dalam konteks semacam itulah pemazmur Daud menemukan inspirasi dalam menyusun mazmurnya. Selaku seorang musafir yang sedang melintasi padang gurun, Daud mengalami dan merasakan kondisi iman yang haus dan kering akan Allah. Daud merasa sungguh-sungguh membutuhkan dan memerlukan kehadiran Allah di tengah ketidakpastian pengembaraan hidupnya.  Seperti seorang musafir yang sedang kelelahan, hidupnya ibarat tanah yg kering tandus tiada berair. Ia memerlukan siraman dan kesegaran baru dari Allah yang senantiasa dinantikannya.  Inilah cermin dan gairah hati Daud yang amat merindukan Tuhannya.

 

Kapan Daud berada di padang gurun Yehuda?

Ketika Daud merasa terancam jiwanya dalam bahaya. Ia lari ke padang gurun Yehuda, untuk bersembunyi di sana.  Sebenarnya padang gurun bukanlah tempat yg nyaman untuk menjalani hidupnya.  Namun keadaanlah yg memaksanya ia berada disana.

 

Dalam ayat 2-3, Daud menggambarkan kehausan dan kerinduannya untuk mencari Tuhan dengan ungkapan yang kontekstual sesuai dirinya, “ Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepadaMu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.”  Itulah kebutuhan Daud untuk dan bersama Tuhan dalam hidupnya.

 

Melalui mazmur ini Daud mengajak kita sekalian untuk melihat bahwa kehadiran berbagai kesulitan, ancaman, dan problema kehidupan, yang sering kali menjadi media yang getir bagi banyak orang, ternyata bagi orang beriman (secara khusus bagi Daud) ternyata dapat memainkan peran penting bagi pertumbuhan iman setiap org percaya.  Media yang getir seperti itu justru bagi Daud dan orang beriman lainnya merupakan media yang subur bagi pertumbuhan rasa rindu yang semakin mendalam kepada ALLAH.  Daud merasakan bahwa kasih setia Alah itu jauh lebih besar dari pada hidupnya.

 

Itulah sebabnya Daud merindukan tetap dapat memandang Tuhan, melihat kekuatan Tuhan dan kemuliaan Tuhan, sekalipun situasi hidupnya dalam bahaya.  Keyakinan iman Daud sungguh begitu kokoh dan teguh justru saat hidupnya terancam.  Itu semua karena Daud lebih memilih memandang dan mencari Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *