Renungan Berjalan bersama Tuhan

Kaki Kita Melangkah ke Mana?

Kaki Kita Melangkah ke Mana?

Amsal 4:27

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Tugas kaki hanya terus-menerus melangkah dan melangkah … Ia melangkah ke mana saja. Bisa jalan-jalan di mal, pasar, kota, desa, naik- turun gunung, berlari, memanjat, dan sebagainya. Kaki adalah salah satu anggota tubuh yang paling setia, karena disuruh ke mana saja menurut, tidak membantah atau menolak … bahkan dapat dikatakan, ia tidak bisa melangkah sendiri tanpa ada order atau perintah kerja. Itulah yang dinasihatkan oleh Amsal, “Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan” (Amsal 4:27). Kaki memang bisa melangkah ke mana saja. Kaki melangkah ke rumah Tuhan, ke gereja untuk melakukan ibadah, berdoa, bersekutu, melayani, bersaksi, dan sebagainya. Namun, kaki yang sama juga bisa melangkah menuju night club, pergi berjudi, atau ke mal atau plaza. Dengan kata lain, kaki yang sama bisa melangkah pergi menuju tempat-tempat yang baik dan jahat, yang benar dan salah, yang membangun dan merusak. Amsal mengerti dengan tepat bahwa ada yang memberikan perintah agar kaki pergi ke sana atau ke sini. Tidak mungkin kaki mempunyai keinginannya sendiri untuk pergi melangkah. Dari mana perintah itu datang? Tidak lain dari hati dan pikiran.

Langkah kaki orang yang hatinya sudah mempunyai hikmat dan kebenaran, yaitu Tuhan Yesus, tidak akan menyimpang ke kanan atau ke kiri dari kebenaran Tuhan. Langkah kakinya akan berjalan lurus, yakni dalam kebenaran-Nya. Dengan demikian, kaki akan melangkah pada arah yang terus-menerus menjauhi kejahatan. Kaki itu tidak berani lagi melangkah pada masalah-masalah yang membawa atau menghasilkan yang jahat, yang tidak benar, baik di hadapan Allah maupun sesama. “Jauhkanlah kakimu dari kejahatan” dimaksud Amsal agar kaki kita tidak melangkah menuju perkara-perkara yang jahat. Dunia kejahatan tidak boleh dekat dengan kehidupan anak-anak Tuhan. Sedikit saja kejahatan dekat dengan kita, pasti segera masuk dalam kehidupan kita. Kejahatan itu tidak boleh dikompromikan dan harus ditolak dengan tegas! Begitu diberikan sedikit kesempatan, ia akan segera masuk. Jika sudah masuk, kaki kita akan terbiasa melangkah pada kehidupan yang jahat. Kaki itu akan membawa seluruh keberadaan dan hidup kita dalam arena kejahatan. Saat itu, kita sudah diikat oleh kejahatan. Oleh karena itu, Amsal berpesan dengan sungguh-sungguh agar kaki kita tidak melangkah pada kejahatan.

Bagaimana seseorang bisa melangkahkan kakinya menjauhi kejahatan? Jawabannya kembali kepada hati dan pikiran kita, apakah kita sudah mempunyai hikmat, yaitu Tuhan Yesus yang menjadi Tuhan dan Juruselamat kita. Orang yang bertobat akan mendapatkan hikmat, yaitu Tuhan Yesus yang masuk ke dalam hati dan pikirannya. Dengan kebenaran di dalam hati dan pikiran, kita akan dituntun untuk melangkah pada kebenaran. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *