Khotbah Perjanjian Lama

Kala Kejahatan Nampak Semakin Menggila

(3) Keinginan mengendalikan segala sesuatu hanyalah sebuah ilusi

Ilusi, karena faktanya kita sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk itu. Jangankan mengendalikan segala sesuatu, mengendalikan apa yang akan terjadi dengan diri sendiri saja tidak mampu. Lombok, Palu, Donggala adalah contoh yang sangat nyata. Secanggih apapun alat-alat yang kita miliki untuk mendeteksi terjadinya gempa bumi, tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya.

Kita diajarkan bagaimana menyelamatkan diri jika terjadi gempa bumi, berbaring di samping sebuah benda yang kokoh, karena di situ ada ruang yang aman. Namun, apakah jika hal itu benar-benar terjadi, kita pasti selamat? Belum tentu! Bahkan kalau selamat, tidak tertimpa bangunanpun, belum tentu bisa keluar dari sana; kalau tidak bisa keluar dan posisinya sulit ditolong ya tetap mati kelaparan. Orang yang naik pesawat selalu diajari bagaimana menyelamatkan diri jika terjadi sesuatu tetapi faktanya, pilot dan pramugarinya yang sudah hafal prosedur penyelamatan diri saja belum tentu selamat, apalagi yang lain? Dalam dunia ini selalu ada kondisi yang tiba-tiba menyerang tanpa kita bisa berbuat apa-apa.

Jadi, jika kita ingin mengendalikan segala sesuatu, kita menyusahkan diri kita sendiri.

(4) Menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam kendali Allah adalah tindakan yang paling bijaksana

Orang yang paling bahagia bukan orang yang berhasil mengendalikan segala sesuatu, melainkan orang yang berhasil menyerahkan segala sesuatu ke bawah kendali Tuhan. Orang yang seperti ini hidupnya enteng, rileks karena tidak harus menanggung beban yang tidak perlu. Bukan berarti lalu kita menjadi pasif, pasrah bongkokan atau menyerah pada nasib, bukan! Berserah tidak sama, bahkan berlawanan dengan menyerah. Menyerah itu putus asa, ya sudah terserah nasib. Sebaliknya berserah itu aktif, tetapi tidak bertindak dengan kekuatan dan cara kita sendiri, melainkan tunduk dan menyerahkan kepada Tuhan apa yang menjadi bagian Tuhan, kepada orang lain apa yang menjadi bagian orang lain dan melakukan apa yang menjadi bagian kita dengan baik dan bertanggungjawab.

Ada seorang, sebut saja namanya Amir. Karena faktor ekonomi, sejak usia 5 tahun diberikan kepada pamannya di luar pulau. Di sana ada saudara-saudara sepupunya yang kurang lebih seusia dengan dia. Seharusnya menyenangkan, punya banyak teman bermain, namun kenyataannya justru sebaliknya. Setiap saat mereka mem-bully si Amir itu, baik dengan kata-kata maupun perbuatan yang melecehkan, bahkan suatu malam, ketika dia tidur, mereka datang beramai-ramai menelanjangi dia, lalu pergi dengan tertawa-tawa senang. Tanpa dia sadari, di terbentuk pola pikir yang salah: “Kalau mau dihormati harus kaya.” Akibatnya, sepanjang hidupnya dia berjuang keras untuk menjadi orang kaya.

Apakah kerja keras salah? Tidak! Orang percaya harus bekerja lebih keras dari orang yang tidak percaya karena kita telah mendapat anugerah keselamatan. Yang salah adalah motivasinya. Dia bekerja keras agar menjadi kaya, agar tidak dibully, agar dihormati, karena pola pikir yang salah bahwa untuk dihormati harus kaya. Jadi, fokus hidupnya adalah uang. untuk mendapatkan uang dia menghalalkan segala cara, termasuk mengorbankan isteri dan anak-anaknya. Firman Tuhan berkata: “Akar segala kejahatan adalah cinta uang.” Akibatnya hidupnya sangat tegang dan kacau, isteri dan anak-anaknya sangat menderita, nyaris rusak.  Dia juga tanpa sadar menghina mereka yang miskin dan memperlakukan karyawannya dengan tuntutan yang sangat keras.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *