Renungan Berjalan bersama Tuhan

Kamu Atau Aku?

Kamu Atau Aku?

Ibrani 13:1-25

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin” (Ibrani 13:20-21). Bagian ini ditulis oleh penulis surat Ibrani kepada orang-orang Kristen yang sudah tersebar di mana-mana, bahkan sampai ke Roma. Situasi dan kondisi jemaat pada waktu itu sedang berada dalam penganiayaan. Hidup dalam kesulitan dan tantangan-tantangan yang berat. Terlebih-lebih masalah utamanya adalah persoalan iman atau kepercayaan kepada Tuhan Yesus. Penulis Ibrani hendak berbagi hidup untuk saling menguatkan agar orang-orang Kristen tetap setia dalam imannya, tidak murtad, yakni meninggalkan Tuhan Yesus hanya karena ancaman atau kesulitan hidup yang dialami oleh mereka.

Ketika kesulitan dan ancaman tiba, kadang kala pertanyaan “kamu atau aku?” begitu mudah dipertanyakan. Jika ada orang yang meminta pertanggungan jawab dari kita, siapa yang menghadapinya? “Kamu atau aku?” Secara umum, kita begitu mudah menuding “kamu” untuk hal-hal yang tidak enak, sulit, menyusahkan dan membahayakan. Namun, sebaliknya, kita mudah untuk menjawab “aku” untuk hal-hal yang mendatangkan berkat keuntungan, kebahagiaan, kenikmatan hidup, dan sejenisnya. “Kamu atau aku” mempunyai batas kepentingan yang sangat tipis. Oleh karena itu, pertanyaan itu bisa dijawab dengan berbagai alasan. Untuk hal-hal yang tidak enak, kita mudah mengatakan bahwa itu belum menjadi bagian saya, belum waktunya, saya tidak kuat, saya tidak bisa menjalani hidup yang demikian, dan sebagainya. Sedangkan untuk hal-hal yang mendatangkan berkat, kita mudah mengatakan bahwa itu anugerah Tuhan yang memang sudah menjadi bagian dalam hidup saya, waktunya sudah tepat, berkat itu bagi saya, atau Tuhan menjawab pergumulan saya yang sudah saya nanti-nantikan.

Penulis Ibrani membuka batasan yang tipis itu sehingga orang tidak mudah berkata “kamu atau aku”! “Allah damai sejahtera … kiranya memperlengkapi kamu” artinya Allah memberikan kekuatan, keberanian, ketenangan kepada kita untuk menghadapi segala kesulitan hidup dalam mengikut Tuhan Yesus. Perlengkapan itu sangat baik, memampukan orang Kristen pada masa itu untuk melakukan kehendak-Nya dan apa yang berkenan kepada-Nya. Damai sejahtera Allah itu yang menyertai hidup anak-anak Tuhan agar dapat mengerjakan dengan baik segala tantangan dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, orang-orang Kristen sudah tak lagi dipusingkan dengan “kamu atau aku”. Penulis Ibrani menegaskan bahwa anak-anak Tuhan seharusnya tidak diperhadapkan dengan pilihan lagi ketika mengalami tantangan iman. Orang Kristen harus berani menjawab, “Ini aku bersama dengan Tuhan Yesus!” Kesaksian hidup selalu menyatakan “aku” dan bukan “kamu”. “Aku” yang seharusnya bersaksi dan bukan “kamu” yang bersaksi! “Aku” yang mau melakukan kehendak-Nya dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *