Khotbah Perjanjian Baru

Kasih

1 Yohanes 4:7-12 (1 Yohanes 4:16, 19)

Oleh: Pdt. Budianto Lim

Beberapa minggu belakangan ini, saya mempunyai keinginan yang lumayan besar untuk pergi ke Sydney, Australia. Buat apa? Buat nonton musical “Les Miserables” yang digubah berdasarkan karya Victor Hugo dari Perancis. Mengapa sampai muncul keinginan spt itu? Karena musical ini menangkap pengajaran kristiani yang sangat kental dasar Alkitabiahnya. Referensi mengenai Tuhan, doa, kejahatan hati manusia, kerusakan masyarakat dan dosa banyak ditekankan. Tetapi sentral dari pesan musical tersebut adalah perubahan seorang narapidana setelah ia alami anugerah dan kasih Tuhan yang mengampuni, yang berbelas kasihan, yang juga memampukan ia buat mengampuni dan berbelas kasihan. Coba perhatikan lirik lagu dari 1 menit clip bagian akhir musical tersebut. Keinginan saya untuk nonton musical tersebut di Sydney tentu tidak akan direalisasikan, karena terlalu berlebihan. Harap-harap aja supaya musical itu datang ke Singapura tahun depan atau 2017.

“To love another person is to see the face of God”.

Kalimat lagu tadi mempunyai gema sama seperti 1 Yohanes 4 yang tadi kita bacakan. Kalau jemaat ditanya “Apa aspek yang paling menyentuh dalam agama Kristen?”, apa kira2 jawabannya?

Kasih Tuhan. Kasih adalah jati diri Allah yang paling disukai oleh orang Kristen. Orang Kristen yang sangat minim baca Alkitab pun, orang Kristen “napas” (natal paskah) pasti tahu-“Allah adalah kasih” (1 Yoh.4:8, 16 dan 2 Kor.13:11). Bahkan orang non-Kristen pun tahu. Orang-orang Kristen yang merasa sedikit mengalami kasih Tuhan pun, kalau ditanya apa yang mereka mau dari Allah? Jawabannya: mengalami kasih Tuhan.

Sebagian besar kita yang baru pulang retreat, kita memiliki satu kerinduan yang sama yaitu ingin menjalin relasi lebih intim dengan Allah. Dan gambaran mengenai Allah yang paling dominan adalah kasih. Akibatnya, secara intuitif kita merasa sudah tahu dan mengerti apa arti kasih dan kasih Tuhan. Saya menduga ketika Anda tahu tema kotbah hari ini, di antara jemaat mungkin ada yang bersikap ‘oh temanya kasih Tuhan’.

Mengapa secara intuitif kita merasa sudah tahu dan mengerti akan kasih Tuhan? Jawabannya: karena kasih adalah jati diri Tuhan yang paling gampang konek dengan kita dalam pengalaman hidup sehari-hari.

Waktu dampingi anggota keluarga kita yang sakit, kita menyaksikan pengaturan tangan Tuhan dengan jelas – kita mengalami kasih Tuhan.

Orang tua khususnya para ibu rumah tangga berusaha jaga anak dengan semaksimal mungkin, eh tuh anak hampir kecelakaan tapi gak jadi – keluarga mengalami kasih Tuhan.

Bagi yang bekerja perlu ada tambahan penghasilan karena ada pengeluaran tambahan, eh dapat kenaikan – kasih Tuhan tepat waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *