Renungan Berjalan bersama Tuhan

Kasih Bisa Dekat Atau Jauh

Kasih Bisa Dekat Atau Jauh

Amsal 3:1-8

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Setiap bangun pagi, Ayu langsung berteriak-teriak memanggil mbak Minah, pembantu yang bekerja di rumahnya, yang sangat menyayanginya. “Mbak Minah … cepat ke sini! Aku takut!” Atau kadang Ayu minta dibuatkan susu. Putri semata wayang itu selalu memanggil Minah dengan manja. Mengapa ia hanya mencari dan memanggil mbak Minah? Karena di rumahnya sudah tidak ada lagi nama yang dapat ia panggil. Ayah dan ibunya berangkat bekerja pagi-pagi benar dan pulang setelah larut malam. Setiap hari dijalaninya dengan pembantunya. Memang semua kebutuhannya terpenuhi. Segala jenis makanan dan minuman, mainan, puluhan saluran televisi anak, beragam permainan dari yang sederhana sampai yang canggih, semuanya tersedia di rumah. Minah mengasuhnya dengan segenap hati. Ia pun berani membela Ayu apabila ia dimarahi orangtuanya. Ia pun tak rela Ayu dipukul atau dibentak-bentak dengan kasar oleh orangtuanya.

Berbeda dengan Grace, yang setiap bangun pagi langsung disambut dengan pelukan dan ciuman orangtuanya. Balita ini begitu dimanjakan orangtuanya. Mereka tidak akan pergi bekerja sampai semua urusan dengan Grace beres. Dengan begitu, walaupun mereka kemudian pergi bekerja dan menyerahkan Grace ke dalam tangan pengasuhnya, peran mereka sebagai orangtua tidak digantikan oleh sang pengasuh. Adakalanya mereka mengajak Grace ke kantor secara bergantian. Di sana mereka menyediakan ruangan khusus untuk kamar Grace.

Dari dua contoh tersebut tampak perbedaan yang besar tentang kasih orangtua kepada anak. Kasih itu bisa bersifat dekat dan jauh. Kasih yang dekat adalah kasih yang kehangatan dan getaran emosionalnya benar-benar dapat dirasakan. Ada ikatan batin yang dekat dan akrab. Sedangkan kasih yang jauh tidak menghasilkan kehangatan, kedekatan, dan hanya ada sedikit getaran emosional. Perasaan itu tetap ada semata-mata karena masih adanya hubungan orangtua dan anak. Amsal berkata, “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu” (Amsal 3:2). Ternyata kasih bisa mendekat dan menjauh! Kasih dan kesetiaan bisa meninggalkan kita. Entah disengaja atau tidak, disadari atau tidak, relasi kasih itu bisa semakin jauh akibat jarangnya pertemuan, tegur sapa, persentuhan, tindakan saling membelai dan memeluk. Amsal menyatakan bahwa kasih itu harus dikalungkan di leher kita dan dituliskan pada loh hati. Kalung yang dikenakan itu menempel ke tubuh kita, dekat dengan hati. Tuliskanlah dalam relung hati yang paling dalam, maka kasih itu akan mendekat, dialami, dan dirasakan. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, aku ingin terus-menerus menorehkan kasih di dalam hatiku sehingga seluruh hidupku menyatakan bahasa kasih yang konkret. Bukan hanya wacana, dibahas, dan dibicarakan, tetapi dilakukan dengan segenap hati. Mampukanlah aku menunjukkan kasih di dalam kehidupan keluargaku, bukan saja melalui pekerjaan atau tanggung jawab dalam mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi juga lewat tindakan memberikan waktu untuk bercengkerama bersama keluarga.
  2. Tuhan, tolonglah agar kami membahasakan kasih bukan hanya melalui seminar atau wacana diskusi dan Pemahaman Alkitab, tetapi benar-benar diwujudnyatakan dalam seluruh kegiatan gereja. Pimpinlah Komisi Lanjut Usia yang menggembalakan orang tua yang paling sering merasakan kesepian dan tidak diperhatikan. Kiranya melalui kehadiran Komisi Lanjut Usia, mereka bisa merasakan kasih yang nyata dalam pengalaman hidup mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *