Renungan Berjalan bersama Tuhan

Kasih

Kasih

oleh: Pdt. Nathanael Channing

1 Korintus 13:1-13

Hidup yang kita jalani pasti tidak terlepas dari iman, pengharapan, dan kasih. Siapa pun manusia itu, hidupnya pasti mempunyai iman atau kepercayaan kepada Allah. Semua agama juga mengakui bahwa Allah itu ada dan terus berkarya sampai dunia ini berakhir. Dengan iman, seseorang mempunyai pengharapan, karena melalui iman, pengharapan itu akan terwujud. Dengan iman, seseorang memohon pemenuhan kebutuhan hidupnya kepada Yang Mahakuasa. Sebelum apa yang kita minta diberikan, kita akan terus menanti. Itulah yang disebut pengharapan! Ada permohonan, keinginan, cita-cita, dan tujuan hidup yang belum tercapai, itulah yang akan terus diperjuangkan sampai mendapatkannya. Dalam perjuangan untuk mendapatkan itulah terletak pengharapan.

Pengharapan manusia tidak hanya sebatas pada apa yang ada di dalam dunia ini. Ada pengharapan yang bersifat kekal, pengharapan akan dunia yang ada “di sana”, yakni rumah Bapa—surga—yang penuh dengan kemuliaan Allah. Dengan demikian, manusia membutuhkan Allah yang menjadi satu-satunya tempat di mana manusia bisa berharap untuk kembali ke rumah Bapa dengan jaminan keselamatan yang pasti! Saat Paulus memberikan surat penggembalaannya kepada jemaat di Korintus, ia berkata, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Korintus 13:13). Keselamatan sejati itu pasti menjadi pengharapan setiap insan di dunia ini. Tidak ada seorang pun yang mempunyai pengharapan yang kosong, yang palsu, dan yang sia-sia. Pengharapan itu harus mempunyai kepastian karena tanpa ada kepastian, pengharapan itu akhirnya tidak ada artinya. Pengharapan membutuhkan iman karena dengan iman, seseorang dapat percaya. Jadi, iman sangat penting di dalam menjalani pengharapan. Tidak mungkin tanpa iman orang bisa berharap. Orang yang berharap pasti percaya dengan segenap hati bahwa apa yang dipercayainya itu suatu saat akan terwujud. Pengharapan itu akan menjadi kenyataan. Pada saat pengharapan itu sudah menjadi kenyataan, maka sudah tidak dibutuhkan lagi iman dan pengharapan. Yang masih terus tertinggal adalah hubungan antara Allah dan manusia, perjumpaan antara Allah yang menebus di dalam Tuhan Yesus dan manusia yang menjadi tebusan-Nya. Hubungan itu dapat terjadi hanya karena kasih. Kasih yang sejati adalah kasih yang tidak berkesudahan. Itulah yang dimaksudkan oleh Paulus bahwa iman dan pengharapan akan berhenti, tetapi kasih tidak akan berkesudahan. Allah yang memberikan jaminan. Keselamatan yang pasti menjadi pengharapan bagi semua manusia di dunia ini. Pengharapan itu bisa didapat hanya dengan percaya kepada Tuhan Yesus. Pengharapan itu akan menjadi kenyataan dalam relasi yang penuh kasih. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, tambahkanlah imanku agar semakin teguh dalam menanti pengharapan yang sejati, yakni hidup yang kekal, juga pengharapan akan janji-janji Tuhan dalam dunia ini yang akan Engkau nyatakan. Biarlah apa yang menjadi keinginanku, semuanya ada dalam rencana dan kehendak-Mu. Ajarlah aku taat pada pimpinan-Mu.
  2. Tuhan, tolonglah mereka yang belum percaya kepada-Mu sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi. Biarlah mereka mempunyai pengharapan yang sejati, bukan yang sia-sia. Jadikanlah aku saluran berkat bagi mereka yang belum mengenal Engkau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *