Khotbah Perjanjian Baru

Kebebasan yang Bertanggung Jawab

1 Korintus 8:1-13

Oleh: Pdt. Em. Stefanus Semianta

Hari ini segenap warga Tionghoa di seluruh dunia merayakan Tahun Baru Imlek.  Salah satu ciri perayaan ini adalah di setiap keluarga mesti tersedia kue keranjang yang manis dan tahan lama. Bagi warga keturunan Tionghoa yang merayakan Imlek, keberadaan kue keranjang di altar tempat sembahyang keluarga adalah wajib hukumnya.  Bahkan mereka juga harus membawa kue susun (dari kecil samapai besar) ke Klenteng.  Ada kepercayaan yang menyatakan bahwa kue itu merupakan upaya tutup mulut bagi Dewa Tungku yang tugasnya adalah memberikan laporan pada Dewa Langit perihal kehidupan keluarga (di sepanjang tahun yang telah dilewatkan).  Mereka berharap mulut Dewa Tungku akan lengket setelah makan kue keranjang sehingga ia tidak bisa melaporkan hal-hal yang jelek tentang kehidupannya.  Demikianlah garis besar penjelasan dari bapak Eddy Prabowo, ahli sejarah Cina dari UI yang sekarang mengajar di Beijing.  Menurutnya, kue keranjang juga berkaitan erat dengan kondisi darurat yang dapat terjadi.  Bila tidak ada persediaan makanan yang lain, kue keranjang dapat dikonsumsi begitu saja, karena tahan lama (bisa bertahan dua bulan).

Berbicara tentang makanan yang telah dijadikan persembahan kepada berhala (dewa-roh nenek moyang), sering kali banyak jemaat mempertanyakan apakah boleh ikut memakannya atau tidak boleh?  Pertanyaan serupa juga ditanyakan saat menghadiri kenduri/selamatan oleh tetangga yang berbeda keyakinan.  Hal tersebut ternyata telah menjadi perdebatan sejak gereja berdiri dan berkembang sebagai persekutuan milik Tuhan yang perlu menyatakan identitasnya secara benar dalam kehidupan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *