Khotbah Perjanjian Baru

Kebebasan yang Bertanggung Jawab

Terhadap hal tersebut, Rasul Paulus menegaskan bahwa makanan itu tidak membawa orang lebih dekat kepada Tuhan.  Kalau orang tidak memakannya tidak rugi apa-apa dan kalau orang memakannya juga tidak untung apa-apa, kecuali kenyang sesaat.  Bagi yang kuat iman dan memandang tidak ada berhala di dunia ini dan semua makanan baik bila diterima dengan syukur dan  didoakan (1 Timotius 4:4-5).  Mereka bebas memakannya.  Hanya saja, ini pesan Paulus, jangan sampai kebebasan mereka itu menjadi batu sandungan bagi saudara mereka yang masih lemah iman.  Bila demikian keadaannya (saat bersama-sama mereka) barangkali yang paling tepat bila ia tidak usah memakannya.  Itu yang bijaksana.  Agar kebebasannya itu tidak melukai hati saudaranya yang masih lemah iman.  Tapi bila sendirian atau di rumah barangkali tidak apa-apa.  Contohnya berkat kenduri yang dibawa pulang.  

Paulus sendiri menegaskan  bahwa  tidak semua orang memiliki pengetahuan yang sama dalam tumbuh dan berkembang sebagai anggota tubuh Kristus.  Ada yang tampak lebih dewasa dalam iman, ada yang kristennya ‘kapal selam’, muncul setahun sekali waktu Natal/Paskah atau waktu Perjamuan Kudus.  Hal yang demikian tentu bukan yang dikehendaki TUHAN, tapi realitasnya ada (dan kelompok ini sering kali gampang tersinggung).   Justru itulah sebabnya ia mendorong jemaat yang kuat untuk memperhitungkan dan menolong yang lemah iman agar pada waktunya mereka pun memiliki kedewasaan yang sama.  

Dalam persekutuan hidup anak-anak Tuhan,  Tuhan menghargai semua orang dengan latar belakang mereka masing-masing.  Mereka satu tubuh yang masing-masing punya fungsi yang dihargai oleh Tuhan, dan Tuhan menghendaki agar setiap orang hidup saling menghargai dan memberi tempat satu di antara yang lain, agar nama Tuhan dimuliakan dan jangan saling menghakimi.

Orang Kristen memang orang bebas, tapi bukan berarti bebas tanpa batas.  Bebas yang ditunjukkan dengan tepo seliro (tenggang rasa), dan digunakan untuk kepentingan yang membangun jemaat.  

Bila jadi sandungan, lalu apa artinya?  Maka dalam 1 Korintus 10:23, Rasul Paulus berkata, “Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna.  Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.”

Oleh karena itu dalam kehidupan bersama, kita mesti berpikir, apakah yang kita lakukan di tengah kebersamaan itu hal yang membangun atau bukan?  Memuliakan Tuhan atau tidak?  Bila memuliakan Tuhan mari kita teruskan dan tingkatkan.  Tapi kalau tidak, kita mesti meninjau ulang apa yang kita kerjakan.

Dalam kehidupan bergereja, apa yang terjadi di jemaat Korintus masih sering terjadi dalam kehidupn kita sehari-hari.  Tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.  Contoh: pemberkatan nikah pada hari Minggu; pemberkatan nikah untuk pasangan yang telah cerai;  pemakaian alat-alat elektronik dalam ibadah seperti LCD, notebook, handphone, dan lain-lain.  Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa alat-alat pendukung itu tidak perlu.  Akan jadi berhala modern dan membuat orang tidak berkonsentrasi pada firman.  Tapi sebagian yang lain akan berpendapat bahwa alat-alat pendukung diperlukan demi membantu jemaat menangkap lebih jelas isi khotbah. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *