Khotbah Perjanjian Lama

Keberadaan Allah dan Sikap Kita

Keberadaan Allah dan Sikap Kita

Mazmur 139:1-12

oleh: Jenny Wongka †

Ada seorang suami yang sangat berbahagia dengan memiliki seorang istri yang cantik. Kebahagiaan mereka menjadi semakin lengkap dengan hadirnya seorang putri yang kini berusia tiga tahun. Namun, pada suatu akhir pekan (Sabtu sore), tatkala sang suami bercanda-ria dengan putrinya yang terkasih itu, siapa yang dapat menduga kepahitan datang menghampiri sang suami ini. Istrinya yang pergi berbelanja keperluan keluarga, meninggal dalam kecelakaan mobil yang dikendarai sendiri. Seketika itu terang seolah-olah sirna selama-lamanya bagi sang suami itu. Pada malam selepas penguburan, manakala sang ayah membaringkan putrinya di atas tempat tidur kecilnya, tiba-tiba seluruh lampu padam. Di tengah kegelapan nan pekat itu, sang ayah berkata kepada putrinya, “Anakku, diam ya di tempat tidurmu, ayah akan turun ke basement dan akan segera kembali!” Putri ini tidak mau ditinggalkan sendirian, sambil meminta agar ayahnya menggendongnya. Sembari menggendong putrinya, sang ayah berjalan di tengah kegelapan itu menuju basement.

Di tengah keheningan dan kepekatan itu, sang putri memeluk leher ayahnya kuat-kuat, sambil berkata, “Yah, sungguh gelap, tapi saya tidak takut sebab Ayah ada di sini!” Sang ayah tersentak dengan kalimat putrinya. Segera ia membenamkan mukanya di rambut panjang putrinya sambil berkata, “Ya, sayang, memang sangat gelap, tetapi Ayah juga tidak boleh takut, sebab Allah Bapa Ayah ada di sini!” Sang ayah disadarkan oleh kalimat putrinya bahwa sesungguhnya Allah Bapa ada di sini. Allah mengetahui dengan jelas kecemasannya menantang hari esok bersama putrinya yang membutuhkan asuhan seorang ibu, dan ia sendiri juga membutuhkan penolong yang menjadi pendamping untuk mengarungi perjuangan hidup ini.

Saya mengajak kita merenungkan tema: Keberadaan Allah dan Sikap kita.

 Keberadaan Allah

  • Allah berada di tempat saya berada saat ini (139:1-5)

“Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku!”

Daud memberikan pengajaran Doktrin Kemahatahuan Allah kepada kita melalui ayat ini. Pertama, ia menyapa Allah sebagai Objek, bahwa Dia menyelidiki dan mengenal dirinya dengan baik. Orang yang menyapa Allah, tentu saja ia mengakui lebih dahulu bahwa Allah itu ada, sehingga dari hatinya timbullah perasaan hormat dan takut. Yang kedua, ungkapan kalimat ini sebagai aplikasi untuk dirinya sendiri, yaitu: ia sadar bahwa Allah itu mahatahu, maka ia harus selalu mawas diri dan berperilaku yang tidak mendatangkan murka penghukuman Allah. Daud adalah seorang raja, ia tentu mengaminkan bahwa “Seperti tingginya langit dan dalamnya bumi, demikianlah hati raja-raja tidak terduga!” (Amsal 25:3). Tepat! hati raja-raja tidak bisa diduga oleh segenap rakyat, namun mereka sama sekali tidak sanggup untuk menyembunyikan hati mereka dari Yang Mahaada dan Mahakuasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *