Khotbah Perjanjian Baru

Kebesaran Jiwa Seorang Sahabat

Oleh: Maria Natalia

Filemon 1

SS, pada Januari 2020, terjadi sebuah peristiwa yang dialami oleh Driver Ojek Online wanita, berusia 53 tahun di Bandung. Driver Ojol ini mengalami insiden tidak mengenakkan saat melayani konsumen yang memesan minuman di sebuah kedai kopi. Pesanan yang diinginkan oleh konsumen itu tidak ada sehingga ia minta dibatalkan. Namun, ibu driver ojol itu tidak bisa meng-cancel di aplikasi. Ketika minta tolong kepada salah seorang pelayan di kedai kopi itu yang masih berusia 27 tahun, ia dimaki oleh pelayan itu. Bukan hanya itu, oleh si pelayan kedai kopi, di aplikasi online itu yang ditekan bukan tombol “Cancel” melainkan “Delivered” atau menyatakan pesanannya sudah diterima. Takut diprotes oleh konsumen, ibu driver ojol itu meminta agar konsumen mau dibelikan minuman yang lain, yang akhirnya konsumen itu setuju.

Saat kembali ke pelayan tadi, ibu itu dimaki-maki lagi, disebut “Bodoh” dengan kata yang kasar dan dipukul dengan triplek sebanyak dua kali. Saya bayangkan driver yang sudah terhitung nenek-nenek itu dimaki dan dianiaya oleh pelayan kedai kopi yang notabene jauh lebih muda darinya. Ditinjau dari sudut manapun, rasanya tidak pantas bila seseorang memerlakukan orang lain secara sewenang-wenang. Saya merenungkan kasus ini. Orang yang “Sama-sama berstatus pelayan” tetapi memperlakukan orang lain dengan begitu rendah bahkan menghina dan menganiaya. Bagaimana jika orang itu berkedudukan lebih tinggi? Bagaimana kita memandang orang lain akan memengaruhi cara kita bersikap terhadap orang lain, bukan?

SS, dalam berelasi dengan orang lain, dunia mengajarkan, kita membalas yang baik dengan yang baik.  Dunia  juga mengajari kita, membalas yang jahat dengan yang jahat, kalau bisa lebih jahat lagi. Hal ini pasti dimaklumi, pasti didukung oleh orang-orang yang “Berada di pihak kita.” Namun, apakah itu kehendak Tuhan? SS, orang percaya dalam jemaat Tuhan pun tidak kebal terhadap relasi yang bisa saja tidak sehat. Mungkin di gereja, jangan-jangan saudara pernah mengalami bagaimana dikhianati oleh orang yang saudara percaya. Mungkin dalam berelasi dengan mereka yang usianya jauh di bawah kita, mereka pun menyakiti kita. Selama pelayanan, nmungkin pernah mengalami diperlakukan tidak adil oleh sesama pelayan atau rekan hamba Tuhan. Bisa saja kita menerapkan prinsip dunia dalam hidup berkomunitas gereja, dengan rekan-rekan kita. Kita menyakiti mereka yang menyakiti, membalas kalau bisa lebih sakit daripada yang sudah pernah kita alami. Tetapi pertanyaannya bagi kita: Apakah ini yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan sebagai orang Kristen? Inilah pentingnya kita belajar firman Tuhan di pagi hari ini. Di sinilah perlunya transformasi relasi atau pembaharuan relasi di antara orang percaya. Transformasi yang seperti apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *