Renungan

Kekuatan Kasih

Kekuatan Kasih

Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.

(Amsal 10:12)

 

Ruth Bell Graham, istri seorang pendeta terkemuka Billy Graham, pernah mengatakan rahasia keberhasilan pernikahan mereka. Ia berkata, “A happy marriage is the union of two good forgivers.” Terjemahan bebasnya: sebuah pernikahan adalah penyatuan dua orang yang cakap mengampuni. Saya rasa ini adalah sebuah nasihat yang realistis karena tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Pasangan kita tidak sempurna, demikian pula diri kita.

 

“Kebencian menimbulkan pertengkaran” (Amsal 10:12). Kebencian hadir ketika kasih tak lagi ada. Tidak ada yang lain yang dihasilkan oleh kebencian selain pertengkaran. Pertengkaran akan melahirkan luka, dan luka akan menambah kebencian, seperti sebuah siklus: kebencian, pertengkaran, luka dan kebencian yang lebih besar. Kita dapat membayangkan betapa memprihatinkan kondisi pasangan, keluarga, dan gereja yang berada di dalam siklus ini.

 

“Tetapi kasih menutupi segala pelanggaran” (Amsal 10:12). Kata “menutupi” di Amsal ini bukan berarti secara sengaja menganggap tidak ada. Kata “menutupi” di bagian ini memiliki makna mengampuni. Mengampuni harus dimulai dengan menerima realitas yang tidak menyenangkan, yakni ada orang yang melakukan kesalahan yang menimbulkan luka.

 

Langkah selanjutnya dalam pengampunan adalah memilih untuk tidak terpaku pada luka, tetapi rela memberi kesempatan untuk memulai yang baru.

 

Tidak ada masa depan tanpa pengampunan. Tidak ada pengampunan tanpa kehadiran kasih. Mari belajar mengasihi.

(Wahyu Pramudya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *