Renungan

Kekuatan Rasa Cukup

Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.

(Amsal 30:9)

Cobalah Anda menengok sebentar ke toko buku terdekat. Anda akan menemukan banyak buku membahas tentang bagaimana meraih kekayaan sebanyak mungkin dan secepat mungkin.  Buku-buku bertema seperti ini biasanya laris manis. Tentu saja keinginan untuk meraih kekayaan adalah hal yang wajar. Masalahnya adalah kadang kala keinginan itu begitu kuat memengaruhi seseorang sampai ia menghalalkan segala cara. Tak jarang orang-orang yang ingin meraih kekayaan sebanyak dan secepat mungkin ini menjadi mangsa investasi keuangan yang menjanjikan keuntungan semu. Ingin kaya malah tertipu. Mau untung malah buntung.

Tidak wajar pula jika seseorang ingin menjadi miskin. Kemiskinan tentu bukan kondisi yang menyenangkan bagi orang yang sehat jiwanya. Wajar kalau orang berjuang untuk keluar dari belukar kemiskinan. Tak jarang karena merasa kurang, sebagian orang mencuri sebagai jalan pintas meraih kekayaan.

Doa Amsal hari ini mengajarkan kepada kita tentang rasa cukup. Amsal tidak memuja kemiskinan, tidak mengajarkan kepada kita untuk membabi buta mengejar kekayaan. Perhatikan doa penulis Amsal ini, “Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku” (Amsal 30:9).

Kekayaan dan kemiskinan bisa membuat kita tergelincir ke dalam dosa; rasa cukuplah yang akan menjaga kita tetap kokoh berdiri.

(Wahyu Pramudya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *