Renungan Berjalan bersama Tuhan

Kelakuan yang Bersih

Kelakuan yang Bersih

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Orang benar yang bersih kelakuannya–berbahagialah keturunannya” (Amsal 20:7)

Entah di rumah, di tempat kerja, atau di mana pun, kita sering mendengar teman-teman merumpi ketika mereka melihat orang yang menderita, ditimpa kesengsaraan dan kesusahan terus-menerus; atau ketika mereka melihat orang-orang yang hidupnya mewah, kaya raya, hidup mapan mulai dari generasi kakek nenek hingga cucu cicit. Lalu, ada yang mengatakan bahwa nasib orang itu memang demikian. Hidup orang itu sudah digariskan untuk sengsara, miskin, atau sebaliknya menjadi orang enak, kaya raya. Itu semua tidak bisa diubah dengan cara apa pun. Kalau garis hidupnya sudah miskin, sekalipun jungkir balik berusaha untuk menjadi orang kaya, ia tetap saja miskin.

Di sisi lain, ada orang yang kerjanya santai namun penghasilannya luar biasa, bahkan di masa krisis ekonomi pun, ia tidak bangkrut, malah menjadi lebih sukses. Hal itu karena mereka memang sudah digariskan menjadi orang kaya. Coba lihat apa yang tergaris di telapak tangan Anda, semua pasti berbentuk huruf M, bukan? Itu pertanda bahwa manusia nasibnya sudah ditentukan untuk “Mati”. Jadi dalam hidup ini, ada nasib dan juga ada karma. Nasib atau karma tidak bisa diubah dengan cara apa pun, selain hanya dijalani saja sampai kematian tiba.

Bagaimana tanggapan kita terhadap masyarakat yang merumpi seperti itu yang sudah ada sejak zaman nenek moyang kita? Jelas, pendapat atau pandangan seperti di atas sama sekali tidak benar dalam kacamata iman Kristen! Firman Tuhan tidak pernah menyatakan adanya kebenaran nasib atau karma. Allah yang kita percayai adalah Allah yang tidak pernah menetapkan seluruh karya dan ciptaan-Nya berada dalam penderitaan dan kesulitan. Allah juga tidak pernah membiarkan kesengsaraan  menjadi bagian dalam hidup manusia. Allah juga tidak pernah berpangku tangan ketika melihat manusia mengalami kesakitan, apalagi kalau itu terkait dengan penderitaan yang kekal. Allah kita adalah Allah “Pembebas, Penyelamat, Pendamai”. Allah yang mahahadir memberikan shalom bagi semua anak-Nya yang percaya dan yang diselamatkan-Nya.

Tepat yang dikatakan Amsal bahwa “orang benar yang bersih kelakuannya, berbahagialah keturunannya”. Jadi kebahagiaan—hidup yang penuh sukacita dan ada damai sejahtera—ditentukan oleh kehidupan “orang benar yang bersih kelakuannya”. Dalam terjemahan lain dikatakan, “Orang yang baik dan hidup lurus” atau “orang yang hidupnya berjalan dalam integritas” pada kebenaran. Orang yang demikian akan membuat keturunannya menikmati kebahagiaan. Mengapa? Karena anak-anaknya melihat langsung bagaimana orangtuanya menjalani hidup dalam kebenaran. Hidup yang bersih kelakuannya, itu bukan hanya dalam kata-kata atau bukan teori yang diajarkan, melainkan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari melalui perkataan dan perbuatannya. Anak-anak melihat contoh langsung dan kemudian menjadikan pola hidup orangtua yang benar untuk berjalan dalam kebenaran dan hidup lurus. Kebahagiaan ditentukan karena melakukan kebenaran, bukan karena nasib. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *