Renungan

Kemarahan Menambah Masalah

Kemarahan Menambah Masalah

 

Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.

(Amsal 15:18)

Suatu kali saya menemani anak-anak di sebuah tempat bermain di dalam mal. Ada dua anak yang tanpa sengaja bertabrakan. Keduanya menjadi bertengkar. Lalu, datanglah orangtua salah satu anak yang segera memarahi anak yang lain. Anak yang dimarahi itu memanggil orangtuanya. Kini kedua orangtua itulah yang bertengkar. Orang-orang pun berkerumun, satpam muncul dan bertanya mengapa kedua orangtua itu bertengkar. 

 

Merasa tidak mendapatkan jawaban yang jelas, satpam itu menanyakan di mana anak-anak yang tadi bertengkar. Kedua orangtua itu pun menengok ke kiri dan ke kanan, mencari anak-anak mereka. Eh ternyata mereka sudah bergandengan tangan, tertawa-tawa, dan bermain bersama. Betapa malunya kedua orangtua itu.

 

“Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan” (Amsal 15:18).

Amsal ini mengategorikan orang dalam dua jenis: si pemarah dan orang yang sabar. Beda keduanya pun jelas. Si pemarah membangkitan atau menimbulkan pertengkaran. Si pemarah selalu melihat orang lain sebagai lawan. Si pemarah suka cari perkara.

 

Sebaliknya, orang yang sabar memadamkan perbantahan. Orang yang sabar tidak mencari perkara, tetapi justru menyelesaikan perkara. Bukankah memang hanya kesabaran, dan bukan kemarahan, yang akan menyelesaikan banyak urusan di dalam hidup ini?

 

Tugas kita sekarang bukanlah mengingat siapa saja teman-teman kita yang termasuk kategori pemarah dan siapa yang bukan. Tugas kita adalah memeriksa diri kita apakah selama ini kita lebih banyak memulai pertengkaran atau memadamkan konflik? Apakah kita adalah pemarah atau orang yang sabar?

 

Ingatlah kemarahan hanya menambah masalah, sedangkan kesabaran, perlahan namun pasti, akan menyelesaikan masalah.

(Wahyu Pramudya)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *