Khotbah Perjanjian Baru

Kemurahan sebagai Kebiasaan Hidup

Mari kita perhatikan lagi gambar ini (gambar seorang anak gelandangan sedang makan nasi yang tercecer di jalan). Pemandangan yang sama, tetapi memberi pengertian yang berbeda. Bila orang ini adalah Kristus, apa yang aku lakukan bagi Dia? Ini adalah soal cara kita memandang. Bila orang ini Kristus, bagaimana saya berperilaku? Apakah aku akan memarahi dia atau bertindak memarahi orang tuanya? Atau aku akan mengusir dia? Coba, dipikir, Saudara… bila itu yang aku lakukan, aku telah menolak Kristus.

Oleh karena itu, ada dua hal penting yang perlu kita perhatikan tentang bagaimana kita menghidupi kemurahan tersebut. Pertama, apa yang akan aku lakukan kepada orang itu jika aku adalah Kristus, jika aku membawa nama Kristus. Kedua, apa yang akan aku lakukan terhadap orang itu apabila ia adalah Kristus. Itulah dua hal sederhana yang tidak bisa tidak harus ada dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Itulah prinsip kemurahan hati.

Ada dua hal yang penting saat kita mempraktikkan kemurahan hati. Pertama, hasil akhir dari kemurahan hati adalah bahwa hal itu menarik orang kepada kita. Kedua, hasil akhir dari kemurahan hati adalah bahwa hal itu menarik orang kepada Kristus.

Untuk menutup khotbah ini, saya ingin bercerita tentang seorang pendeta di Rumania, namanya Richard Wurmbrand. Dia ditahan berkali-kali oleh penguasa Soviet yang mengambil-alih Rumania karena pelayanannya di Gereja bawah tanah. Pada suatu ketika Pendeta ini ditangkap kembali dan dijebloskan ke dalam penjara. Saat itu sedang musim dingin. Sebelum disiksa, Pendeta Wurmbrand ditahan di sebuah kamar bersama-sama tahanan lain.

Merasa sangat kedinginan dengan cuaca ketika itu, Pendeta Wurmbrand mengambil selimutnya. Dia balutkan erat-erat satu-satunya selimut itu di tubuhnya. Tetapi, ketika Pendeta Wurmbrand sedang menikmati hangatnya selimut, dia seolah-olah dihadapkan oleh Tuhan dengan seseorang yang berada di pojok kamar penjara. Orang itu penuh dengan luka karena baru saja disiksa. Dia tampak menggigil tidak hanya karena luka-lukanya, tetapi juga karena tak bisa menahan dinginnya cuaca ketika itu. Pendeta Wurmbrand sesaat membalutkan semakin erat selimut itu di tubuhnya.

Tetapi, Saudara… ketika memandang orang di pojok ruangan tersebut, Pendeta Wurmbrand dihadapkan dengan sebuah pertanyaan: Jika orang itu adalah Kristus, apakah kamu akan memberinya selimutmu? Pertanyaan itu terus mengiang-ngiang di telinga sang pendeta. Dan, sejurus kemudian, dia melepaskan selimut tersebut dari tubuhnya lalu serta-merta membalutkannya di tubuh orang yang sedang menggigil kedinginan di pojok ruangan. Sang pendeta tahu… orang yang kedinginan itu adalah Kristus. “Aku berikan selimut ini supaya Kristus tidak kedinginan,” kata Pendeta Wurmbrand. Kemudian, setelah dibebaskan, ia menulis sebuah buku dengan pertanyaan di atas sebagai judulnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *