Khotbah Perjanjian Baru

Kemurahan sebagai Kebiasaan Hidup

Sekarang saya ingin menantang Saudara, adakah yang berani mempraktikkan kemurahan seperti itu? Silakan yang berani terima tantangan naik ke mimbar. (Tidak ada jemaat yang maju ke mimbar). Tidak ada? Saya tidak akan memaksa. Betul, tidak ada? Oh, puji Tuhan, ada.

Andy Kirana   : Dengan Ibu siapa?

Mia                  : Mia.

Andy Kirana   : Sungguh, Bu Mia mau mempraktikkan kemurahan hati?

Mia                  : Sungguh.

Andy Kirana   : Baik. Ini coba diambil apa yang ada di dalam. (menyerahkan bingkisan kepada Mia). Isinya apa, Bu?

Mia                  : Selimut.

Andy Kirana   : Sekarang, tantangan untuk Bu Mia. Selimut ini saya berikan Ibu. Kebetulan sekarang musim hujan… di luar sana dingin. Rumah Bu Mia jauh di sini?

Mia                 : Tidak begitu jauh.

Andy Kirana   : Nah, kalau dalam perjalanan pulang nanti Bu Mia melihat ‘Kristus-Kristus’ yang kedinginan di jalan, apa yang akan Ibu lakukan?

Mia                 : Saya akan memberikan selimut ini kepada orang itu.

Andy Kirana : Kalau begitu, lakukanlah seperti Ibu lakukan untuk Tuhan Yesus. Selamat  mempraktikkan kemurahan hati, Bu Mia. Tuhan Yesus memberkati ibu.

Saudaraku, mari… mulai saat ini kita membiasakan diri untuk mempraktikkan kemurahan sekalipun hanya melalui hal-hal kecil. Tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata. Ulurkan tanganmu untuk memberi kemurahan bagi sesama. Itulah wujud ucapan syukur kita atas kemurahan Tuhan Yesus yang melebihi hidup ini. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *