Renungan Berjalan bersama Tuhan

Kenikmatan Kebebasan

Kenikmatan Kebebasan

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

1 Korintus 8:1-13

Kita semua bertumbuh dengan kecenderungan ingin mendapatkan kebebasan yang mutlak. Yang dimaksud dengan “kebebasan mutlak” adalah kebebasan tanpa batas, hidup semau gue kata orang Jakarta. Sebenarnya kita sudah mengetahui bahwa “kebebasan mutlak” itu tidak ada! Yang ada adalah “kebebasan teratur”. Justru di tempat yang teratur dengan peraturan-peraturan ketat yang ditaati, maka disitulah kebebasan ditemukan. Seperti seorang yang bermain piano, ia akan dengan bebasnya memainkan model atau jenis musik apa pun, mulai dari dangdut sampai klasik, jika ia menaati not-not balok dengan tertib. Namun, jika ia berkata, “Aku mau main dengan bebas tanpa ada aturan not-not yang ada. Aku mau memukul tuts-tuts dengan genggaman tangan dan tumit kaki karena aku ingin bebas.” Benarkah kebebasan itu dimilikinya, bisakah ia memainkan  musik yang indah didengar dengan cara seperti itu? Ataukah ia malah menciptakan suara yang kacau-balau dan tak lama lagi piano itu akan rusak berantakan?

Orang akan berkata bahwa itu ‘kan dalam hal bermain piano, sedangkan dalam kehidupan sosial masyarakat ‘kan beda. Bukankah kita masih memegang pemahaman adanya kebebasan mutlak yang dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak mau diikat oleh peraturan yang ada. Jika ini dikaitkan dengan kehidupan moral, maka peraturan-peraturan moral benar-benar terasa mengikat sehingga orang tersebut merasa tidak bebas. Aturan-aturan yang mulai diciptakan dalam kehidupan keluarga, kemudian di sekolah dan kampus, rambu-rambu lalu lintas dan kemudian secara global dalam bermasyarakat, itu semua dianggap mengikat dan tidak memberikan kebebasan dalam hidup ini.

Padahal yang benar adalah sebaliknya. Justru jika kita menaati dengan baik semua aturan yang ada, hal itu akan menghasilkan kebebasan hidup yang sesungguhnya, yakni kita tidak merasa takut atau khawatir kalau-kalau perbuatan kita yang tidak aturan itu ketahuan pihak lain. Dalam hal ini, tidak akan terjadi pelanggaran dan tidak ada hukuman terhadap pelanggaran. Kita sering mendengar pertanyaan “Bolehkah orang Kristen pergi ke night club? Bolehkah orang Kristen pergi ke pelacuran atau membawakan wanita penghibur bagi klien bisnisnya? Bolehkah orang Kristen taruhan sepak bola? Bolehkah kita sebagai orang Kristen minum minuman keras sampai teler, mabuk tak sadarkan diri? Bolehkah kita sebagai orang Kristen mempunyai Wanita Idaman Lain atau Pria Idaman Lain? Jika tidak boleh, memang hidup kita sebagai orang Kristen tampak terikat, tersiksa, dan tidak bebas! Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya mudah dijawab, yakni apakah dengan melakukan semua itu, kita benar-benar berada dalam kebebasan atau sebaliknya, berada dalam rasa takut dan khawatir baik terhadap sesama dan terlebih lagi terhadap Tuhan? Apakah kita bisa merasa nyaman dan tenang? Apakah kita tidak merasa bersalah, ataukah sebaliknya, senantiasa dihantui rasa bersalah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *