Khotbah Perjanjian Baru

Kepatuhan: 3 Hal yang Membuatnya Berharga

Kepatuhan: 3 Hal yang Membuatnya Berharga

Lukas 22:42

oleh: Jenny Wongka †

Membaca kembali Lukas 22:41-42 “Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kataNya: ‘Ya, Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.'”

Tuhan kita Yesus Kristus berlutut di Taman Getsemani dalam bayang-bayang semakin dekatnya peristiwa salib itu. Dia tahu segala sesuatu, Dia tahu dengan jelas apa yang sedang dan akan terjadi atas diri-Nya.

Pada hari berikutnya, Dia akan diadili, pertama-tama di hadapan Mahkamah Agung dan kemudian di hadapan Pilatus, dan setiap peristiwa pengadilan atas diri-Nya itu adalah suatu olok-olokan atas keadilan semata;

bahwa mahkota duri akan dikenakan dengan paksa di atas kepala-Nya;

bahwa paku-paku akan menembusi kedua tangan dan kaki-Nya;

bahwa Dia akan ditinggalkan sendiri oleh Bapa surgawi, yang membiarkan Dia sendiri pada suatu sudut semesta ini sebab dosa umat manusia yang sedang ditanggungkan-Nya itu.

Dia tahu semua hal ini, dan jiwa-Nya hancur oleh sesuatu yang harus ditanggung-Nya. Tidak heran jika dalam hidup-Nya ini Dia bergumul dan sempat berseru kepada Allah Bapa, “Ya, Bapa, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku” (dalam bahasa Inggrisnya: “remove this cup from me”), namun pergumulan itu hanya sesaat. Kemudian Dia mengekspresikan kesediaan-Nya untuk menerima cawan ini dalam ungkapan, “Tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” 

Yesus Kristus adalah teladan utama kita. Kita harus menjadikan pemikiran Dia sebagai pemikiran kita—kita harus mengasihi sama seperti Dia mengasihi, kita harus hidup sebagaimana Dia telah hidup. Dia adalah teladan kita dalam satu hal lainnya juga, yaitu sebagaimana kepatuhan-Nya akan kehendak Bapa-Nya, kita juga harus patuh kepada kehendak Allah. Kita harus berkata sebagaimana Kristus berkata, “Bukan menurut kehendak-ku, tetapi biarlah kehendak-Mu yang terjadi.”

Dalam meniti kehidupan kristiani kita, baik pribadi maupun keluarga, selalu diperhadapkan dengan pengambilan keputusan, baik besar maupun kecil. Tidak dapat disangkal bahwa tidak jarang kita menghadapi dilema apakah harus menuruti kehendak diri sendiri atau kehendak Tuhan. Saya mengajak Anda untuk merenungkan tema KEPATUHAN (SUBMISSION) dari dua ayat yang sudah kita baca tadi. Ada tiga hal yang akan kita simak bersama.

 

Kepatuhan Adalah Jalan Yang Tepat (Submission is the Right Way)

Seorang anak harus dengan sempurna patuh akan kehendak keduaorangtuanya.

Adalah sepatutnya seorang karyawan patuh dan taat kepada kehendak majikannya dalam segala hal yang berkaitan dengan bisnis majikannya.

Seorang prajurit mutlak patuh kepada kehendak atasannya, dan menaati serta menjalankan setiap perintah atasannya.

Kita selalu mengaminkan kepatuhan yang tersebut di atas. Betapa lebih tepat pula bila kita harus mengaminkan bahwa sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita harus patuh sepenuhnya kepada kehendak Sang Pencipta kita yang mahakuasa itu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *