Khotbah Perjanjian Lama, Khotbah Topikal

Kepemimpinan Wanita: Mengapa Tidak?

Kepemimpinan Wanita: Mengapa Tidak? (Ibrani 11:32-34)

oleh : Jenny Wongka†

 

Sewaktu saya menerima surat undangan pelayanan khotbah ini, saya sempat tersenyum membaca tema renungan yang sangat aktual serta relevan dengan situasi dan suhu politik di negara kita. Saat itu para elite politik negara sedang ramai memperdebatkan calon presiden RI yang ke-4. Timbul berbagai polemik pro-kontra untuk presiden wanita. Terlepas dari setuju tidaknya saya tentang adanya presiden wanita, saya tidak berniat untuk mendiskusikan polemik hangat ini. Puji Tuhan! Di dalam kehidupan pelayanan anak-anak Tuhan, kita dapat melihat adanya peran banyak wanita baik di dalam Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru. Saat ini saya mengambil seorang tokoh wanita Perjanjian Lama bernama Debora sebagai contoh, untuk mendorong semangat para wanita untuk tetap giat melayani Tuhan.

Sebelum melangkah lebih jauh dalam pengenalan peran Debora dalam sejarah umat Israel, saya ingin memaparkan dua hal. Yang pertama tentang makna nama Debora dan yang kedua tentang hubungan di dalam keluarganya.

Pertama, tentang makna nama Debora. Nama itu berarti lebah. Seperti yang kita kenal dengan baik, lebah selain sebagai jenis seranggag yang rajin bekerja, juga memiliki sengat yang dapat membunuh musuh-musuhnya. Nama itu menunjukkan karakter kepribadian Debora yang sesungguhnya. Ia adalah wanita karier yang menjalani tiga tugas yang penting: hakim, nabiah, dan pejuang. Sama seperti lebah yang dapat menyengat musuh-musuhnya, Debora juga berperan sebagai pejuang yang berhasil dalam pertempuran melawan bangsa Kanaan, yang menjadi musuh bani Israel pada masa itu.

Kedua, tentang hubungan keluarga. Dalam Kitab Hakim-hakim, kita tidak menemukan catatan lengkap silsilah keluarga Debora. Keterangan ringkas hanya terdapat dalam pasal 4:4 yang berbunyi “Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, istri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel.” Debora tinggal di antara Bethel dan Rama yang terletak di pegunungan Efraim. Debora memiliki kebiasaan duduk di bawah pohon kurma, sementara orang-orang Israel berdiri menghadap dia untuk berhakim kepadanya. Oleh sebab itu, untuk menghargai tugas dan keunikan lokasi pelayanan Debora, pohon itu dijuluki “The Palm of Debora.” Tidak ada catatan tentang putra-putri Debora, karena Alkitab sama sekali tidak membahas hal ini. Yang penting adalah, Debora dikenal sebagai wanita yang berwatak tegas dan unik dalam sejarah umat Israel pada zaman para hakim. Ia adalah wanita yang berkharisma dalam rohani, mental, dan juga didukung oleh kekuatan fisik. Ia dipilih dan ditetapkan Allah untuk melepaskan umat-Nya dari tekanan musuh.

Tokoh Debora ini sangat cocok dipakai sebagai teladan para wanita. Tujuannya adalah agar Anda, para wanita, tidak memandang diri sendiri rendah di dalam pelayanan, supaya Anda mengetahui bahwa peran Anda sangat penting bukan hanya dalam keluarga, tetapi juga dalam jemaat dan masyarakat. Mari kita simak bersama uraian berikut:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *