Renungan Berjalan bersama Tuhan

Kepuasan Sebuah Keluarga

Kepuasan Sebuah Keluarga

Amsal 10:1-5

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Pak Anton mengambil cuti sekitar satu minggu. Ia pergi bersama anggota keluarganya, entah jalan-jalan ke mal atau makan di luar. Acara itu memang dikemas oleh Pak Anton sebagai kepala keluarga yang bertujuan untuk membina keakraban, kedekatan, dan keterbukaan di antara anggota keluarga. Mungkin komitmen Pak Anton kelihatannya aneh, tetapi bukankah itu realitas? Dalam keluarga bisa terjadi ketidakdekatan, ketidakakraban, ketidakterbukaan. Yang kerap terjadi adalah semua anggota keluarga berada di dalam satu rumah, tetapi setiap individu hidup menurut kepentingannya sendiri. Yang seorang bisa tidak memedulikan yang lain. Orangtua tidak tahu pergumulan anak-anaknya dan anak-anak tidak tahu kesusahan orangtua.

Kita kerap menemui sebuah keluarga yang sedang berjalan-jalan di mal. Mereka memesan makanan bersama dalam satu meja. Apa yang terjadi di meja itu? Sejak mereka memesan makanan, ketika mereka makan bersama hingga  selesai makan, tidak ada satu pun percakapan yang mereka bahas atau percakapkan bersama, masing-masing individu mulai dari orangtua sampai anak sibuk dengan BlackBerry-nya. Ini suatu kenyataan yang banyak kita jumpai sekarang ini. Bayangkan bila hal itu terjadi dalam kehidupan rumah tangga kita. Oleh karena itulah Pak Anton berkomitmen untuk mengadakan kegiatan keluar seminggu sekali sebagai acara keluarga, terlebih saat ia bisa mengambil cuti. Dalam acara itu ia, istri, dan empat anaknya bisa bersenda gurau, saling bercerita, saling mengingatkan, dan sebagainya. Namun, ada yang unik dari sikap Pak Anton. Setiap kali pulang dari jalan-jalan, ia selalu bertanya kepada anak-anaknya, “Apakah kamu puas?” Jawaban anak-anaknya sangat bervariasi, ada yang puas dan ada yang tidak. Yang puas diminta bercerita mengapa hari itu ia bisa puas. Demikian pula dengan yang tidak puas, juga diminta untuk menyampaikan isi hatinya mengapa ia tidak puas? Ternyata kepuasan itu sangat penting bagi Pak Anton. Mengapa? Karena kepuasan itu memberikan sukacita bersama, baik bagi Pak Anton secara pribadi sebagai seorang ayah dan bagi anak-anaknya yang terpenuhi kebutuhannya. Acara keluar itu tidak menjadi sia-sia karena memberikan nilai-nilai tertentu bagi anak-anak dan keutuhan keluarga.

Kepuasan yang dimaksudkan bukan dalam arti kedagingan seperti hura-hura, makan sepuasnya sampai kekenyangan, atau bermain sepuasnya sampai tidak ingat waktu. Bukan itu! Kepuasan yang dimaksudkan adalah kepuasan hati yang penuh dengan sukacita karena terjadi keakraban dan relasi yang semakin dekat. Kepuasan yang mengalir dari hati yang penuh sukacita karena benar-benar merasakan adanya kasih sayang dalam kegiatan itu. Kasih itu muncul pada saat semua anggota keluarga bermain, bercanda, berjalan-jalan, berekreasi, atau makan bersama. Kepuasan itulah yang ditanyakan oleh Pak Anton kepada anak-anaknya. Seperti yang dikatakan Amsal bahwa anak-anak yang menjadi bijak akan mendatangkan sukacita bagi keluarga. Anak menjadi bijak kalau ada kepuasan di dalam keluarga. “Amsal-amsal Salomo. Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya” (Amsal 10:1). Relasi dan komunikasi yang akrab dan terbuka dalam kehidupan keluarga akan mendatangkan sikap bijak di tengah seluruh anggota keluarga. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *