Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Perjanjian Lama

Keputusan-Keputusan Iman Musa

Keputusan-keputusan Iman Musa (Ibrani 11:23-29)

oleh : Jenny Wongka †

 

Hidup manusia terbentuk dari keputusan-keputusan yang diambilnya. Sebagian dari keputusan itu sederhana dan kurang penting, namun sejumlah lainnya bersifat kompleks dan luar biasa pentingnya dalam kehidupan kita. Kualitas hidup pribadi sehari-hari dan hidup rohani kita ini lebih banyak ditentukan pada keputusan kita, misalnya tatkala Setan mencobai kita, kita bertekad untuk mengatakan: ya atau tidak. Tatkala ada kesempatan untuk bersaksi, kita bisa segera memanfaatkan kesempatan itu atau justru mengacuhkan. Kepada kita pula terbentang suatu keputusan untuk meluangkan waktu berdoa dan membaca Alkitab. Untuk hal yang satu ini tidak ada kaitannya dengan masalah kita punya waktu atau tidak, melainkan kita mau atau tidak untuk meluangkan waktu untuk berdoa dan membaca firman-Nya. Saya tertarik dengan ucapan Napoleon, “There is a crisis in every battle, a period of ten to fifteen minutes on which the outcome depends. To take advange of this period is victory, to lose it is defeat.”

Mulai dari kitab Kejadian ditunjukkan tokoh-tokoh yang memilih jalan Allah dengan ketaatan yang terus-menerus kepada-Nya. Memilih jalan Allah sebagai suatu keputusan tepat yang diambilnya—dan hal ini dilakukan hanya atas dasar iman yang benar pula. Berlandaskan pada perikop yang kita baca serta tema renungan ini, kita bisa melihat betapa kehidupan Musa mengilustrasikan keputusan-keputusan iman dalam segi positif atau hal-hal yang diterima (ayat 23,28-29) dan segi negatif atau hal-hal yang ditolak (ayat 24-27).

Fokus renungan yang saya ambil hanya dari ayat 24 sampai 27. Di situ terdapat keputusan iman yang menolak empat hal sebagai berikut:

 

  1. Iman Menolak Prestise Dunia (11:24).

Selama 40 tahun sebagai orang terhormat dalam istana Mesir, negeri kaya yang berkebudayaan tinggi serta dengan masyarakat yang maju pada zaman itu, tidak heran ia mendapatkan pendidikan tinggi dan diperlengkapi dengan berbagai macam keterampilan. Kisah Para Rasul 7:22 menyaksikan bahwa “Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya”. Semua bekal ini tidak pernah mengaburkan matanya terhadap pengharapan serta perjanjian Allah kepada Israel, umat sebangsanya.

Keputusan krusial diperhadapkan pada Musa saat ia berusia empat puluh tahun. Faktor keputusan adalah imannya di dalam Allah. “Karena iman, Musa setelah dewasa menolak disebut anak puteri Firaun” Tahun-tahun kejayaan dalam istana Mesir tidak pernah mampu meniadakan kesetiaannya kepada Allah. Dalam Kisah Para Rasul 7 Stefanus bersaksi bahwa Musa mendapat misi Allah untuk melepaskan umatnya dari Mesir. Umatnya tidak memahami misi ini, namun Musa jelas tahu. Umat Israel kini diperhambakan di Mesir, padahal sebelumnya mereka sangat dihormati sebab adanya Yusuf. Kita kenal dua tokoh besar yang Allah pakai di Mesir untuk umat pilihan-Nya: Yusuf memakai kuasa Mesir untuk melakukan kebaikan bagi umat pilihan Allah, sedangkan Musa harus melawan kuasa Mesir untuk tujuan keselamatan umat pilihan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *