Renungan, Ringkasan Khotbah

Kerajaan, Kuasa dan Kemuliaan

Oleh: Ps. Agus Lianto

Matius 6:5-8, 11-13

Dalam minggu ini kita akan melanjutkan pembahasan mengenai sikap yang benar dalam berdoa seperti yang diajarkan oleh Yesus kepada para murid-Nya, khususnya bagaimana kita menempatkan diri di hadapan-Nya melalui doa-doa kita dan bagaimana kita mengakhiri doa kita dengan sikap penuh kemenangan.

1.      Berdoa dalam Ketergantungan pada Bapa

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya…” (Matius 6:11) 

“Sebab TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaan tanganmu. Ia memperhatikan perjalananmu melalui padang gurun yang besar ini; keempat puluh tahun ini TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, dan engkau tidak kekurangan apapun.” (Ulangan 2:7)

Bapa di sorga adalah Pribadi yang memelihara anak-anak-Nya dengan sangat baik. Di dalam Dia kita tidak akan berkekurangan (Ulangan 2:7), dan Ia telah mengetahui segala kebutuhan kita bahkan sebelum kita mendoakannya (Matius 6:8). Itu sebabnya dalam doa kita perlu memohon pemeliharaan-Nya ‘setiap hari’, sebuah pengakuan bahwa kita harus senantiasa bergantung dan membutuhkan berkat-Nya hari demi hari. Banyak orang berharap mendapat berkat yang berlebih justru agar mereka tidak perlu bergantung pada-Nya setiap saat, ini adalah sebuah sikap yang keliru yang akan membuat seseorang tidak mampu memiliki kehidupan doa.

2.      Berdoa untuk Pengampunan Dosa

“…dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;…” (Matius 6:12)

“…tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2)

Kita perlu terus mewaspadai hal-hal yang dapat menghalangi doa. Salah satu penghalang doa yang terbesar adalah dosa  (Yer 5:25, Yes 59:2), dan sayangnya kita semua adalah manusia yang mudah sekali berbuat dosa. Itulah sebabnya kita perlu selalu memiliki sikap yang mau sadar dan bertobat dari segala dosa. Di sisi lain kita juga perlu mengampuni orang yang bersalah kepada kita agar Tuhan juga memberikan pengampunan-Nya.

3.      Berdoa untuk Kemenangan dari Si Jahat

“…dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” (Matius 6:13a) 

“…Ia menuntun aku di jalan-jalan kebenaran oleh karena nama-Nya. Walaupun aku berjalan melewati lembah bayang-bayang kematian, aku takkan takut bahaya, karena Engkau bersamaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itu yang menghiburku.” (Mazmur 23:3-4)

Hidup ini adalah sebuah peperangan rohani yang terus menerus, dan kemenangan kita sangat bergantung pada kekuatan dan pimpinan Allah. Kita perlu memiliki kewaspadaan rohani dalam doa-doa kita. Allah memang tidak mengangkat atau menghindarkan kita sepenuhnya dari dunia yang jahat, tapi Ia berjanji akan menuntun dan melepaskan kita dari segala tipu muslihat musuh. (Mazmur 23:3-5).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *