Khotbah Perjanjian Baru

Keramahan pada Orang Kecil

KERAMAHAN PADA ORANG KECIL

(oleh: Pdt. Yosua Agung Nugroho)

Roma 6:12-23; Matius 10:40-42

 

Saudara, kehidupan manusia dewasa ini makin tidak ramah. Masih saya ingat dulu saya SD melihat di luar pagar rumah, banyak tersedia kendi-kendi dan gelas berisi air. Maksudnya agar siapapun yang lewat dan kehausan, boleh minum sepuasnya. Wisatawan asing pun banyak tertarik untuk datang berkunjung ke Indonesia, karena orang Indonesia katanya ramah-ramah… Itu dulu, namun bagaimana sekarang?

Rasanya makin hari, makin sulit kita menunjukkan keramahtamahan pada orang asing. Kita harus berhati-hati saat mau menerima orang yang tidak kita kenal dalam rumah tangga kita. Karena sudah banyak kejadian kejahatan yang memanfaatkan keramahan dewasa ini. Mulai dari yang pura-pura jadi tukang reparasi, mengaku disuruh sang empunya rumah, bahkan saya di gereja pun sering kedatangan orang-orang yang berpura-pura kesusahan untuk mendapatkan uang. Memang sikap hati-hati pada masa kini sangat dibutuhkan, namun kiranya jangan sampai kehati-hatian tersebut lebih menonjol sampai menghilangkan keramahtamahan kita.

Dalam Alkitab sebenarnya ada banyak sekali kisah-kisah/ayat-ayat yang mendorong umat Allah untuk bersikap ramah mulai dari kisah Abraham menyambut tiga orang tamu (malaikat) tidak dikenal, sampai perumpamaan orang Samaria yang murah hati. Bahkan keramahtamahan orang percaya tidak hanya terbatas ditujukan kepada orang yang sudah dikenal, namun juga kepada orang yang tidak dikenal, tamu, ataupun orang asing. Intinya, ndak peduli siapapun juga, baik kenal maupun tidak, harus disambut dengan keramahtamahan.

Dalam Injil Matius 10:40-42 Tuhan Yesus juga menyinggung mengenai keramahtamahan, terutama keramahtamahan yang diberikan kepada para murid yang diutus oleh Yesus untuk membawa berita. Berita apa? Berita bahwa di dalam Yesus Kristus ada keselamatan, di dalam Yesus Kristus ada pemulihan dan pengampunan dosa. Sebuah tugas perutusan yang mulia, namun sama sekali tidak mudah. Ada dua kemungkinan yang dihadapi oleh para murid: ditolak dengan kebencian atau diterima dengan ramah. Bagi barangsiapa yang menolak kehadiran para murid, maka ia sama saja dengan menolak Yesus sendiri. Namun bagi barangsiapa mau menyambut para murid, maka berarti ia mau menyambut Yesus, dan barangsiapa mau menyambut Yesus berarti ia mau menyambut Allah Bapa masuk dalam kehidupannya. Menyambut di sini bukan sekedar menerima, karena bisa jadi seseorang menerima tamu dengan tidak ramah. Dalam bahasa Yunani, kata menyambut (dexomai) memiliki arti yang lebih mendalam, yakni menerima dengan ramah, hangat, dengan tulus. Nah, bagi barangsiapa yang mau menyambut para murid dengan keramahan, maka bacaan kita menyebutkan bahwa orang tersebut akan menerima upah sesuai dengan keramahan yang ditunjukkan. Kalau ia ramah kepada nabi, maka ia akan menerima upah nabi. Kalau ia ramah  pada orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Kalau ia ramah pada orang yang diutus Allah, maka ia akan menerima upah dari Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *