Khotbah Perjanjian Baru

Kesederhanaan

Kesederhanaan (Simplicity)

1 Timotius 6:6-10

oleh: Jenny Wongka †

Dari bagian firman Tuhan yang kita baca di atas, saya menarik sebuah tema yang mudah diingat dan simple, yakni Simplicity. Tema renungan firman Tuhan ini segera mengingatkan saya pada seorang mantan dosen SAAT, mendiang Pdt. Matius Sie, seorang dosen yang saya hormati. Yang paling berkesan pada saya ialah sebuah moto hidup yang berbunyi: Simplicity is the way of my life (KESEDERHANAAN adalah gaya hidup saya). Setiap kali baik dalam kehidupan pribadi maupun pelayanan saya, manakala saya mulai memikirkan berbagai jenis tuntutan yang lebih, maka moto ini kembali mengiang dengan sangat jelas! Dalam Alkitab terdapat banyak peringatan tentang bahaya cinta akan uang. Bagi saya, tidak ada peringatan yang lebih gamblang dari apa yang Tuhan Yesus pernah berikan, “Karena di mana hartamu berada, di situ pula hatimu berada” (Matius 6:21). Orang yang tidak sudi memiliki kesederhanaan hidup akan sangat jelas terlihat melalui gaya hidupnya yang selalu mengejar harta. Celakanya, betapa sering untuk meraih harta itu, segala macam cara dapat dihalalkan dengan berani.

Sebagai orang Kristen, terlebih rohaniwan ataupun calon rohaniwan, salahkah bila kita mempunyai banyak uang? Sama sekali tidak! Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa menjadi kaya itu adalah dosa. Sejumlah tokoh Perjanjian Lama seperti Abraham, Ayub, dan Salomo terkenal sebagai orang-orang yang kaya pada zaman mereka.

Sikap manusia terhadap uang akan sangat menentukan gaya hidupnya. Bagi saya, pengenalan yang tepat atas harta merupakan tolok ukur kesederhanaan hidup kita.

Harta adalah pemberian Tuhan kepada kita. Setiap orang Kristen harus menyadari bahwa apa yang ada pada kita itu adalah providentia (penyediaan) Allah. Kepada kita dipercayakan semua harta itu agar kita dengan bijaksana mempergunakan. Jangan kita bermegah atas harta ataupun mengejar harta sebagai goal tertinggi di dalam kehidupan kita. Orang yang cinta akan uang sudah pasti hidup jauh dari kesederhanaan. Berlandaskan Firman Tuhan, kita akan belajar bersama apa yang dimaksud dengan kesederhanaan. Bagaimanakah kesederhanaan hidup yang dituntut oleh Tuhan bagi kita sebagai orang Kristen? Mari kita simak ulasan berikut:

 

  1. Wujud Kesederhanaan Hidup—RASA CUKUP atau contentment (6:6)

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar”

Rasa cukup” atau contentment—au)tarkeia yang berasal dari akar kata yang sama au)tarkhj = self sufficency. Kata ini dipakai oleh Cynic dan Stoic untuk melukiskan seseorang yang tidak terusik oleh sikon, atau seseorang yang secara tepat merespons sikon sekitarnya! Terjemahan lain untuk ayat ini: “Tatkala kesalehan disertai dengan rasa cukup, akan meraih keuntungan yang besar.” Seorang komentator Alkitab yang bernama Geoffrey B. Wilson mengatakan, “Merasa cukup artinya rasa puas dan tidak mencari apa-apa lagi lebih dari apa yang sudah dimiliki sekarang ini.” Bagi orang Kristen, rasa cukup itu berasal dari Allah sendiri, sebab tidak ada seorang manusia pun dari dirinya sendiri yang sanggup untuk merasa cukup. Bukti konkret: bersungut-sungut atas apa yang kita miliki terlalu sering mewarnai keseharian hidup kita. Dalam realitas hidup, terlalu sering kita mengeluh: tengoklah, rumput dan bunga di pekarangan tetangga kita jauh lebih mekar dan lebih indah! Inilah keberdosaan manusia yang selalu tidak pernah merasa cukup. Tidak heran bila Rasul Paulus bersaksi dalam 2 Korintus 3:5, “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.” Kemudian ditambahkan pula dalam 9:8, “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu.” Yesus, karakter dari kesederhanaan hidup. Rasa cukup bukan hanya merupakan moto hidup Rasul Paulus, melainkan juga tampak jelas dalam kesaksian hidupnya. Dalam Filipi 4:11-13 disaksikan, “Kukatakan ini bukan karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. (aku belajar dalam segala keadaan: aku rasa cukup) Aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Kunci keberhasilan Rasul Paulus dalam kesederhanaan hidup ini adalah keyakinannya yang kokoh kepada Allah bahwa “Allahku akan memenuhi segala keperluanku menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *