Khotbah Perjanjian Baru

Keselamatan: Iman atau Perbuatan?

Oleh: Pdt. Ruth Retno Nuswantari

Yakobus 2:14-26

Pada suatu hari, dua orang Kristen bertengkar hebat. Orang pertama berkata: “Dalam hidup ini, yang penting percaya kepada Tuhan Yesus, karena hanya dengan percaya kepada Tuhan Yesus kita memiliki kepastian keselamatan. Kalau meninggal dunia pasti masuk sorga.” Orang kedua berkata:”Jangan terlalu percaya diri bahwa kamu pasti masuk sorga hanya karena kamu percaya Tuhan Yesus. Pada akhir jaman nanti, kita semua akan dihakimi sesuai dengan apa yang kita lakukan selama hidup kita. Maka, walaupun mengaku telah percaya kepada Tuhan Yesus, kalau perbuatanmu tidak benar, kamu tidak akan selamat.” Pertengkaran menjadi semakin panas dan tidak berujung karena mereka masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan mengutip ayat-ayat Alkitab yang mendukung pendapat mereka. Padahal, kalau masing-masing mau merendahkan diri, mengakui keterbatasannya sebagai manusia, mendengarkan pihak lain, dan belajar bersama, pertengkaran itu tidak perlu terjadi.

Paulus memang berkata bahwa keselamatan semata-mata anugerah Allah melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus, bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan (Gal 3:11-12; Ef 2:8-9), tetapi Yakobus berkata bahwa iman itu tidak dapat menyelamatkan jika tidak disertai perbuatan baik.  Sepertinya, Yakobus berkata bahwa yang menyelamatkan kita adalah perbuatan, bukan iman, atau setidak-tidaknya, iman dan perbuatan, bukan iman saja. Nampaknya Paulus dan Yakobus bertentangan, tetapi  apakah benar keduanya bertentangan?

Untuk menjawab pertanyaan, kita perlu mengetahui latar belakang ajaran masing-masing, baik Paulus maupun Yakobus.

Latar Belakang Ajaran Paulus

Paulus mengajarkan keselamatan dari dosa dan maut semata-mata adalah anugerah melalui iman kepada Yesus Kristus karena pada saat itu telah muncul guru-guru palsu, dalam hal ini adalah orang-orang Kristen Yahudi, yang mengharuskan orang-orang bukan Yahudi untuk disunat sebagai syarat untuk diselamatkan. Dengan kata lain, mereka mengajarkan bahwa untuk diselamatkan orang harus terlebih dahulu menjadi Yahudi dalam arti melakukan semua peraturan hukum taurat. Itu jelas bukan ajaran yang benar. Untuk diselamatkan dari dosa dan maut, orang bukan Yahudi tidak perlu menjadi Yahudi, cukup dengan percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat secara pribadi, bukan karena keselamatan itu murahan, tetapi justru karena terlalu mahal, hutang dosa kita kepada Tuhan terlalu besar sehingga tidak ada perbuatan baik apapun yang cukup untuk membayarnya.

Latar belakang Ajaran Yakobus

Yakobus menekankan perbuatan sebab pada saat itu ada kecenderungan orang percaya, yang meremehkan perbuatan. Mereka berpikir, asal percaya kepada Tuhan Yesus semuanya beres. Akibatnya banyak orang Kristen yang masih hidup di dalam dosa tetapi merasa sudah diselamatkan karena merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Padahal, apa artinya percaya? Percaya itu bukan sekedar mengakuan di mulut melainkan berbalik dari dosa dan menyerahkan diri secara total kepada Tuhan Yesus. Jadi, orang yang benar-benar percaya, tidak mungkin terus berkubang dalam dosa dan tidak mungkin tidak berbuat baik. Perbuatan baik adalah bukti atau buah dari percaya. Walaupun selama masih di dalam dunia orang percaya bisa jatuh, tetapi itu bukan karena disengaja atau dinikmati. Sebaliknya, mendatangkan dukacita yang mendalam karena telah mendukakan hati Tuhan dan dukacita itu mendatangkan pertobatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *