Khotbah Perjanjian Lama

Kesempatan Kedua

Oleh: Maria Natalia

2 Raja-raja 21; 2 Tawarikh 33:1-20

BISS, apakah ada di antara BISS yang suka bermain game? Game apa yang saat ini paling digandrungi banyak orang? Kalau saya tanyakan pada murid-murid saya di SD, pasti mereka dengan seia sekata berkata “Mobile Legends.” Saya sih terhitung orang katrok, tidak suka bermain game, game yang dulu saya mainkan adalah ular-ularan yang kalau ketemu ekornya akan mati. Nah, biasanya kalau bermain sebuah game, kita sebagai peserta akan dimodali dengan beberapa nyawa, bukan? Ada yang 3, atau 5, tetapi yang jelas, kalau kalah dalam satu kali permainan, masih bisa mengulang lagi dari awal sampai tuntas di level tersebut. BISS, saya berandai-andai, enak juga ya kalau dalam hidup kita ini, seperti dalam game tadi, kita punya beberapa “Nyawa.” Yah, kalau gagal bisa diulangi lagi. Tapi bukankah hidup kita ini jalannya linier, lurus ke depan, tidak ada pengulangan lagi, apa yang sudah dilakukan menjadi bagian dari sejarah kehidupan. Bagaimana seandainya jika bukan “Nyawa tambahan” yang kita punya, tetapi kesempatan kedua. Kesempatan inilah yang dimiliki oleh seorang Raja Yehuda bernama Raja Manasye. Kesempatan kedua seperti apa yang ia miliki?

Trouble in The Bible

BISS, dicatat dalam kitab Raja-raja yang saya bacakan tadi bahwa Raja Manasye adalah seorang raja yang jahat. Dikatakan bahwa ia sudah menjadi raja pada usia yang terbilang muda, 12 tahun. Dalam hidupnya, Alkitab mencatat bahwa ia melakukan “Apa yang jahat di mata TUHAN.” Apa saja kejahatannya?
  • Mendirikan bukit pengorbanan, membangun mezbah untuk Baal, dewa sembahan orang yang ada di sekitar bangsa Yehuda.
  • Sujud menyembah kepada berhala.
  • Di bait Tuhan, ia membangun mezbah persembahan untuk berhala.
  • Ia mempersembahkan anaknya sendiri menjadi korban bakaran
  • Melakukan ramal, menghubungi para pemanggil arwah dan roh peramal
  • Manasye mencurahkan darah orang yang tidak bersalah sedemikian banyak, sehingga dipenuhinya dari ujung ke ujung dengan kejahatannya

Kesimpulannya, ia melakukan banyak yang jahat di mata TUHAN, sehingga ia menimbulkan sakit hati-Nya. Ia sudah melakukan banyak hal yang dzalim, musyrik. Bukan hanya itu, dalam kejahatannya, Ia pun membawa seluruh orang Yehuda berdosa pula, ia menyesatkan mereka semua hingga menjadi lebih jahat dari bangsa-bangsa lain.  Di ayat 18 bagian ini, kisah Manasye ditutup dengan kisah kematian Raja Manasye. Seperti kehidupan seorang yang begitu buruk dan berakhir dengan kematiannya. Kita mungkin bisa berkata: “Wah syukurlah Raja itu meninggal, sehingga tidak lebih buruk lagi pengaruhnya untuk orang lain. Jadi orang kok hidupnya seperti itu.”

Trouble in The World

SS, dalam dunia di mana kita tinggal, bukankah juga banyak kehidupan yang dijalani dan diisi dengan banyak hal yang jahat? Ada orang-orang yang memilih untuk mengisi hidupnya dengan tindakan-tindakan yang melawan Tuhan, menyakiti hati Tuhan dan menjadi bencana bagi sesamanya. Adakah kita mengenal orang-orang seperti itu di sekeliling kita? “Tidak ada harapan,” “Tidak ada lagi masa depan” kerap kali ditujukan pada seseorang yang dicap salah, berdosa dan bobrok hidupnya. “Tidak mungkinlah baik lagi,” “Tidak mungkin orang seperti itu bisa menjadi orang yang berguna” bahkan mungkin TUHAN pun sudah bohwat dengan orang seperti itu. Kalau perlu, pikir kita, orang seperti itu didoakan saja supaya cepat bertemu dengan yang Mahakuasa, biar hidupnya tidak menyusahkan orang lain. Janganlah diberi kesempatan orang seperti itu untuk hidup lebih lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *