Renungan Berjalan bersama Tuhan

Kesetiaan Merupakan Batu Ujian dari Kasih

Kesetiaan Merupakan Batu Ujian dari Kasih

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan Tuhan orang menjauhi kejahatan” (Amsal 16:6)

Kasih yang sesungguhnya membutuhkan motivasi dalam penerapannya. Kasih itu tidak bisa dilakukan tanpa tujuan, harapan, dan motivasi. Kita sering mendengar pepatah: ada udang di balik batu. Bukankah itu menggambarkan sesuatu di balik perbuatan baik? Kasih jika dilakukan dengan motivasi kasih, itulah kasih yang sejati. Kasih yang menjadi motivasi adalah kasih yang tanpa pamrih, yaitu kasih agape. Kasih agape benar-benar dapat dirasakan, dialami, dan dinikmati dengan penuh sukacita karena benar-benar mengasihi tanpa pamrih. Amsal menggambarkan bahwa kasih itu membutuhkan “kesetiaan”.

Ternyata yang namanya kasih bisa dilakukan tanpa kesetiaan. Kasih yang sementara, kasih yang terbatas dengan tujuan-tujuan tertentu. Kalau tujuan atau harapan tidak tercapai, maka kasih menjadi luntur, kemudian lama-kelamaan hambar dan akhirnya kasih itu mati. Atau ketika tujuannya sudah tercapai, maka kasih itu juga kemudian berhenti, sudah tidak ada kasih lagi. Oleh karena itu, kasih tetap membutuhkan motivasi. Adanya motivasi yang benar akan memberikan tuntutan yang benar pula. Jika motivasi tidak benar, kasih pasti mudah luntur, hilang, dan mati. Motivasi kasih yang benar akan menuntut pelaku kasih untuk setia.

Kesetiaan akan menjadi batu ujian bagi pelaku kasih. Kesetiaan akan membuktikan apakah kasih tetap bertahan atau tidak! Ketika realitas kehidupan yang dijalani tidak menunjang, seperti pengalaman-pengalaman yang menyakitkan, menjengkelkan, merugikan meski kita berada di pihak yang benar, apakah kita tetap masih bisa mengasihi? Apakah kita tetap dapat menjalin hubungan dengan baik dan menyelesaikan persoalan dengan benar? Ataukah hati kita sudah dirasuki rasa sakit hati yang pada akhirnya menciptakan sikap bermusuhan, tidak mau saling menyapa dan mengenal lagi? Semua masalah yang terjadi di dalam kehidupan kita, khususnya hal-hal yang tidak mengenakkan dan tidak memberikan kenyamanan, akan menguji apakah kasih itu tetap berjalan atau tidak. Jadi, kesetiaan menjadi batu ujian bagi kasih yang bermotivasikan kasih. Oleh karena itu, Amsal mengaitkan bahwa kasih dan kesetiaan harus dilakukan dengan takut akan Tuhan. Hanya dengan kesetiaan terhadap kebenaran firman Tuhan, maka kasih dan kesetiaan akan dilakukan dengan baik. Aplikasi dari kasih dan kesetiaan adalah menjauhi yang jahat, karena kejahatan itu merusak kasih dan kesetiaan. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, sertailah aku ketika dalam hidup ini harus saling mengasihi dengan dasar yang benar yaitu kesetiaan. Kesetiaan perlu waktu yang panjang, harus diuji dengan pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan, yang menyakitkan, bahkan yang meremukkan hati. Tuhan, ajarlah aku untuk tetap setia dalam mengasihi.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja yang terus menguji kasih yang setia. Banyak masalah dalam pelayanan, yang bisa menimbulkan sikap saling menyakiti di antara aktivis, pemimpin, hamba Tuhan, penatua, jemaat, dan sebagainya. Justru pada saat seperti itu, kasih yang penuh kesetiaan diuji. Pimpinlah kami Tuhan supaya hidup kami tetap saling mengasihi dengan motivasi yang benar, yakni kesetiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *