Khotbah Perjanjian Baru

Ketika Badai Melanda

Ketika Badai Melanda

Markus 4:35-41

oleh: Jenny Wongka †

Pengalaman terpaan badai dan amukan gelombang dahsyat dalam arti atau suatu fenomena alam yang sesungguhnya, boleh dikatakan tidak ada seorang pun di antara kita pernah mengalaminya, bukan? Namun, Anda pasti mengaminkan saya, suka atau tidak; mau atau tidak mau, tidak ada seorang pun di antara kita bisa mengelak tibanya badai kehidupan yang menerpa pribadi, keluarga, komunitas Kristen, dan yang paling aktual lagi terpaan badai krisis atas bangsa kita Indonesia. Krisis berkepanjangan, baik dalam sektor ekonomi, politik, dan sosial. Mustahil  bisa dipungkiri bahwa hampir tiap lapisan masyarakat sedang merasakan ekses krisis tersebut. Hanya mungkin saja ada yang terkena terpaan dahsyat badai krisis, seperti misalnya ada suatu keluarga etnis Tionghoa di Kalimantan yang terpaksa bunuh diri dengan racun berhubung rawan makanan, ada yang terkena terpaan badai yang cukup keras sehingga nyaris tenggelam.

Sebelum krisis melanda, keluarga masih sanggup makan dua kali sehari, sedangkan kini hanya satu kali sehari. Realitasnya, anak-anak Tuhan tidak kebal terhadap badai kehidupan dahsyat ini pula. Cobalah kalau kita jeli dan cukup tanggap, bukankah tidak sedikit kita mendengar adanya keluhan beban kesulitan hidup saudara seiman? Dari buletin jemaat, kita bisa membaca imbauan untuk mendukung saudara seiman yang kesulitan untuk membeli sembako (terbukti dengan adanya aksi sosial penjualan sembako murah dan seterusnya). Bahkan juga ada pengusaha Kristen yang dilanda kepailitan, pegawai atau karyawan Kristen yang sedang dilanda pemutusan hubungan kerja. Sebagai konsekuensi logisnya terdengar ungkapan kecewa, “Mengapa harus saya yang mengalami hal ini, Tuhan? Di manakah janji pemeliharaan-Mu kepada anak-anak-Mu?” Untuk merespons kondisi aktual yang tengah melanda kita, saya rindu sekali bersama Anda melalui pembacaan Markus 4 ini untuk menggali kebenaran yang diberikan Tuhan Yesus kepada kita. Tatkala saya menerima surat undangan khotbah dengan perikop dan tema ini, saya begitu tersentak karena kondisi pribadi saya sendiri tengah dilanda pergumulan berat. Tuhan terlebih dulu melawat saya dengan perikop ini. Ia sendiri meneduhkan badai kehidupan pribadi saya. Puji Tuhan! Hanya dengan demikian barulah saya layak atau dimampukan untuk membagikan kepada Anda.

Dari perikop yang baru kita baca tadi, kita akan menyimak beberapa butir kebenaran Tuhan sebagai pedoman kita manakala badai kehidupan tengah melanda.

 

Realitas Adanya Badai (4:35-37)

Dari tiga ayat ini, kita tahu bahwa Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya untuk bertolak ke seberang. Bersama mereka Tuhan Yesus menumpang sebuah perahu untuk menyeberangi Danau Galilea, ada juga yang menyebut Laut Galilea. Sebuah danau yang 13 mil panjangnya dan 8 mil luasnya. (1 mil=1,5 Km, jadi panjang danau ini kira-kira 19.5 Km dengan luas kira-kira 12 Km). Orang banyak pun Suatu rombongan murid (dalam arti pengikut Tuhan Yesus) menyertai pelayaran ini dengan perahu mereka masing-masing. Perhatikan, inisiatif untuk menyeberangi danau ini berasal dari Tuhan Yesus, bukan? Namun, perhatikan yang dikatakan ayat 37, “Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu penuh dengan air.” Adanya keikutsertaan Tuhan Yesus di dalam perahu tidak membuat mereka kebal terhadap terpaan badai, bukan? Bagi saya pribadi, hal ini sudah cukup sebagai bukti bahwa kita sebagai anak-anak Tuhan, para pengikut Tuhan Yesus tidak kebal terhadap terpaan berbagai badai, entah itu badai kesulitan, kehidupan, kekurangan, kerusuhan, penjarahan, dan perlakuan yang kasar dari orang jahat. Mungkin segera terbersit dalam benak Anda, “Kalau demikian, apa bedanya saya sebagai pengikut Tuhan Yesus dengan orang lain yang bukan pengikut Tuhan apabila pengalaman pahit dan menyakitkan itu juga datang menerpa saya? Oh jelas beda, saya dan Anda sebagai orang percaya yang tengah diterpa badai itu, sesuai dengan waktu ilahi (divine time) Tuhan Yesus yang menyertai pelayaran bersama kita itu akan membawa kita keluar dari amukan badai itu. Sedangkan orang yang tidak memiliki penyertaan Tuhan Yesus, di tengah kefrustrasiannya ia terus terombang-ambing dalam amukan badai dan gelombang dahsyat, bahkan cepat atau lambat akan tenggelam dan binasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *