Khotbah Perjanjian Baru

Ketika Hari yang Buruk Datang

Ketika Anda sudah mendapati bukti kuat bahwa pasangan Anda telah berselingkuh, dan sahabat Anda menasihati, “Cobalah bicara langsung kepada suami/istrimu!” Tidakkah Anda akan berkata, “Untuk apa? Untuk membuat hatiku hancur sekali lagi?”

Ketika Anda di PHK, dan istri Anda berkata, “Cobalah besok masuk kerja lagi, siapa tahu Bos berubah pikiran.” Apakah Anda akan menuruti saran ini? “Buat apa?”

Apakah Anda akan tetap melangsungkan pernikahan ketika tahu bahwa calon suami/istri Anda ternyata sudah menikah dan mempunya anak tanpa sepengetahuan Anda sebelumnya? Tidak, bukan?

Bukan sesuatu yang mudah ketika Anda harus menghadapi situasi dan bahkan hari buruk yang membuat Anda terpuruk.  Rasa-rasanya semua nasiha, penghiburan tidak lagi ada gunanya, bahkan terkesan konyol. Semuanya telah terjadi dan tidak ada yang dapat dilakukan lagi. Benar-benar hari yang buruk. Kita berharap semua itu hanya mimpi buruk. Namun, sayangnya tidak demikian.

 

Yesus yang Baik

Jawaban Petrus, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa …,” mewakili perasaan kita ketika mengalami hari yang buruk, bukan? Sekaligus mewakili keengganan kita untuk melangkah karena tidak ada lagi semangat yang tersisa. Lelah dan kalah. Mengapa harus mencoba lagi? Terima sajalah penyakit ini, perselingkuhan ini, pemecatan ini, penipuan oleh calon suami/istri ini. Dan lambat laun hari yang buruk itu menghancurkan kehidupan kita. Menyerah dan kalah. “Memang sudah nasibku seperti ini,” begitu suara batin kita.

 

“… tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Wow … ini baru hal yang luar biasa dari Petrus. Ketika semua daya dan upaya tidak membuahkan hasil, Petrus memilih untuk menerima nasihat Yesus. Nasihat yang terdengar kurang masuk akal dari seorang tukang kayu. Menangkap ikan ketika hari sudah mulai siang bukan hal yang lazim. Namun, apa salahnya mencoba? Hari yang buruk itu mengingatkan Petrus bahwa seluruh keterampilan dan kemampuannya toh ada batasnya. Apa salahnya mengikuti saran Yesus, yang sudah ia dengarkan perkataan-perkataan-Nya selama ini. Siapa tahu berhasil.

Hasilnya? “Mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak ….” Begitu banyak ikan tertangkap sehingga dua perahu lainnya harus membantu Petrus. Dan perahu-perahu itu juga penuh dengan ikan. Situasi terbalik. Dari perahu yang tidak membawa seekor ikan pun menjadi perahu-perahu yang penuh dengan ikan. Bagaimana respons Petrus? Penuh sukacita tentunya. Tetapi, Petrus juga memahami bila semua itu bisa terjadi, maka orang yang memberikan saran untuk menangkap ikan di siang hari itu tentunya bukan sembarang orang. Perkataan Yesus menjadi kenyataan. Saran Yesus membuahkan hasil. Kisah hari yang buruk telah berakhir, bukan dengan sukacita dan tawaran kerjasama dari Petrus ke Yesus untuk membuat perusahaan penangkap ikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *