Khotbah Perjanjian Baru

Ketika Hari yang Buruk Datang

Hari yang buruk itu berakhir dengan sebuah perjumpaan pribadi. Alkitab melukiskan, “Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: ‘Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.’” Hari yang buruk itu ternyata membawanya pada perjumpaan dengan Tuhan. Dia adalah Tuhan yang telah membalik hari yang buruk menjadi hari yang baik. Tuhan yang dengan penuh kemurahan hati telah menyentuh hidup-Nya. Tuhan yang telah membuka mata rohaninya untuk melihat siapa sesungguhnya dirinya: manusia yang berdosa. Manusia berdosa yang sebenarnya tidak pantas menerima pertolongan Tuhan.

Tidak mengherankan betapa ketika Yesus berkata, “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia,” maka Petrus pun segera meninggalkan perahunya dan mengikut Yesus. Rasa syukur kepada Yesus yang telah mengubah hari buruk itu diwujudkannya dengan kesediaannya mengikut Yesus. Hari yang buruk itu justru menjadi hari yang terbaik di dalam hidupnya. Hari yang mengubah perjalanan hidupnya. Dari seorang penjala ikan yang gagal menjadi penjala manusia yang mengubah hidup ribuan manusia di dalam pelayanannya. Panggilan perjalanan dan pelayanannya bersama Yesus justru terjadi di hari terburuknya. Hari terburuk itu menjadi altar perjumpaannya yang terbaik di dalam hidup ini: dengan Tuhan sendiri.

Perjumpaan Petrus dan Yesus di hari yang buruk itu memberikan pelajaran yang sangat berharga. Tidak ada yang lebih buruk selain mengalami hari yang buruk tanpa Yesus. Berserulah kepada Yesus ketika hari yang buruk itu sedang menimpa Anda! Ketika Anda sudah memberi kesempatan bagi diri Anda dan justru kegagalanlah yang Anda temui, mengapa tidak memberi kesempatan kepada Tuhan? Dengarkanlah firman-Nya dan laksanakan betapapun itu terasa mustahil.

Jika penyakit yang tidak terduga itu telah membuat hari Anda menjadi buruk, maka dengarkanlah firman-Nya, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Bersediakah kita mencoba menjalani hari-hari di depan bersama dengan kuasa-Nya?

Jika perselingkuhan pasangan telah menghancurkan hati kita dan membuat kita ingin mengakhiri pernikahan yang ada, maka dengarkanlah firman-Nya, “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” Bersediakah kita berjuang untuk mengasihi pasangan kita bersama dengan kehadiran Tuhan dalam pernikahan kita?

Jika Anda baru saja kehilangan pekerjaan karena alasan yang jelas, maka percayakah kita bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”? Mantapkan langkah, lalu berjalan dan berjuanglah kembali bersama Tuhan.

Jika impian Anda mengenai pernikahan baru saja hancur berantakan, maka bersediakah kita menerima bahwa “rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku”? Mulailah merancang ulang lagi masa depan bersama Tuhan.

Hari yang buruk akan bertambah buruk, kecuali Yesus hadir di dalamnya. Jadikan hari buruk sebagai altar perjumpaan kita dengan Yesus dan kuasa-Nya, maka hidup kita tidak akan pernah sama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *