Renungan Berjalan bersama Tuhan

Ketika Kejenuhan Menggoda

Ketika Kejenuhan Menggoda

1 Korintus 13:1-13

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Pada suatu senja, langit mendung dan beberapa awan gelap menggumpal di sana sini. Duduklah pak Siuman di kursi malasnya. Ia memandang ke arah rumah tetangga di seberang jalan. Sambil menikmati kopi yang diteguknya, dan roti bakar sebagai kudapan sorenya, ia memperhatikan konflik yang terjadi antara Bapak dan Ibu Siluman, sang tetangga. Ia tak bisa mendengar suara mereka, hanya menerka pembicaraan mereka dari gerakan-gerakan tangan yang menuding, mengepal, dan menggebrak-gebrak meja. Ia memutuskan untuk menelepon tetangganya itu. Pak Siluman tahu bahwa tetangganya sedang duduk di kursi malas. Percakapan itu memutus konflik yang sedang terjadi dengan istrinya.

Percakapan yang dimulai dengan basa-basi itu akhirnya dibahas semakin mendalam. Kedua pria itu bersikap saling terbuka dan membagikan pergumulan mereka yang nyaris sama. Apa yang menjadi pokok persoalan mereka? Dalam kondisi emosional, Pak Siluman mengajukan pertanyaan yang menyentak temannya, Apakah kau tidak pernah merasa jenuh melihat istri dan anak-anakmu?” Ternyata Pak Siuman pun merasakan hal yang sama. Keluarganya pun merasakan kejenuhan, tetapi kejenuhan itu tidak sampai diwarnai tindak kekerasan.

Ya, kejenuhan itu ternyata bisa melanda kehidupan keluarga, juga dalam dunia pekerjaan, bahkan pelayanan. Percakapan itu membuat mereka menyadari bahwa kejenuhan bisa terjadi dalam kehidupan manusia dan itu merupakan hal yang wajar. Kesibukan dan rutinitas kerjalah yang menjadi penyebab utamanya. Mengapa demikian? Karena kesibukan kerja dapat membuat komunikasi di dalam keluarga menjadi semakin renggang. Mereka tidak mempunyai waktu untuk mengobrol dan berbagi hidup. Akhirnya, kasih itu semakin pudar dan cinta pada pekerjaan semakin besar. Pekerjaan menjadi lebih penting daripada memberi waktu untuk berbagi kasih dalam keluarga. Malam itu mereka teringat pada apa yang dikatakan Paulus, “Kasih tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1 Korintus13:5). Kasih itu bisa luntur bahkan hilang seiring berkurangnya intensitas komunikasi dan keengganan meluangkan waktu khusus untuk keluarga. Jika kasih sudah menjadi luntur, maka yang tinggal adalah kegetiran hati dan kekerasan. Perkataan Paulus itu membuat keluarga Siluman bertobat. Mereka menyadari kelemahan dan kesalahan masing-masing, dan berbalik pada pola hidup yang kembali berlandaskan kasih. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, jagalah aku, supaya saat karierku berkembang, aku tetap bersikap benar. Pimpinlah aku ya Tuhan, supaya kasih itu tetap menjadi dasar dalam hidupku dan aku terus menyediakan waktu untuk dapat berbagi kasih di tengah keluarga.
  2. Tuhan, ingatkan kami sebagai gereja agar dapat terus saling mengingatkan, belajar bersama dan terus berjuang untuk menghadirkan kasih di dalam kehidupan keluarga. Tolonglah kami dalam mengembangkan pelayanan Pasutri supaya melalui pelayanan ini banyak keluarga akan bertumbuh dalam kasih yang nyata di dalam relasi suami istri dan relasi orangtua anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *