Khotbah Perjanjian Baru

Ketika Konflik Tak Terhindarkan

Ketika Konflik Tak Terhindarkan (Filipi 2:1-13)

oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

Salah satu pertanyaan yang kerap kali saya tanyakan dalam konseling pranikah adalah, “Kapan terakhir kali Anda berdua berkonflik, dan bagaimana penyelesaiannya?” Kadang saya mendengarkan jawaban seperti ini, “Selama ini kami belum pernah berkonflik.” Terus terang ini bukan jawaban yang menggembirakan. Sulit membayangkan relasi antarmanusia yang tak luput dari konflik. Di mana ada dua orang atau lebih, dengan isi kepala dan hati yang berbeda, di situ konflik tercipta. Kamus bahasa Indonesia mendefinisikan konflik sebagai percecokan, perselisihan, atau pertentangan.

Jika ada dua orang yang bisa steril dari konflik, maka kemungkinan yang terjadi adalah salah satu pihak begitu dominannya sehingga pihak yang satunya tidak berani mengungkapkan pemikiran dan perasaannya. Kemungkinan lain adalah kedua belah pihak saling menjaga diri sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Tidak ada konflik, namun juga tidak akan ada pertumbuhan keintiman. Nah, dua kondisi yang seperti ini justru tidak sehat dalam sebuah relasi.

 

Konflik Tak Terhindarkan

“Konflik tak terhindarkan, tetapi permusuhan menjadi pilihan,” begitu tulis Max Lucado. Perbedaan yang ada di dalam hidup ini tak pelak lagi bisa menjadi sumber konflik atau perbedaan/pertentangan pendapat yang tajam. Dengan pelbagai perbedaan yang ada di dalam diri kita dan orang lain, maka konflik menjadi tak terhindarkan. Konflik bisa membuat kita makin mengenal pandangan dan diri seseorang. Namun, konflik juga bisa mengarah pada permusuhan yang berujung pada kebencian dan antipati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *