Khotbah Perjanjian Lama

Ketika Tuhan Tak Dapat Dipahami

Oleh: Maria Natalia

Ayub 42:1-6

Pendahuluan

Tunjukkan gambar-gambar foto di layar LCD).  Saudara-saudara mungkin pernah melihat foto-foto tersebut.  Foto-foto itu cukup terkenal dan merebut penghargaan paling bergengsi dalam dunia fotografi yaitu penghargaan Pulitzer.  Foto-foto itu diambil ketika sang fotografer meliput sebagai jurnalis di Sudan, sebuah negara yang waktu itu terkena bencana kelaparan yang luar biasa.  Foto yang dianugerahi dengan penghargaan Pulitzer ini menggambarkan seorang anak perempuan yang tertelungkup di jalanan karena lapar dan di belakangnya ada burung pemakan bangkai yang seolah menunggu kematian si anak perempuan itu.  Siapa fotografer yang mendapatkan penghargaan itu? 

Dia adalah Kevin Carter, yang menambah terkenal foto-foto tadi karena tak lama setelah menerima penghargaan itu, Kevin Carter ditemukan tewas bunuh diri dalam usianya yang ke-33.  Konon katanya, dia yang adalah wartawan tidak berani untuk menyentuh anak yang difotonya itu karena takut tertular penyakit, dan ia terus menerus dibayangi oleh nasib anak itu, karena setelah memfoto anak itu, ia pergi begitu saja.  Kelaparan yang sedemikian menimbulkan dampak yang luar biasa, lebih banyak orang yang meninggal karena kelaparan dibandingkan dengan jumlah orang yang meninggal karena perang. 

Peristiwa kelaparan itu merupakan salah satu dari begitu banyak kejadian yang menjadi tragedi di dalam kehidupan manusia di bumi ini.  Di samping kelaparan, ada perang, ada sakit penyakit, kecelakaan tragis, bencana alam yang menimbulkan penderitaan untuk umat manusia.  Sebagai manusia, mungkin ada banyak pertanyaan yang kemudian timbul: “Mengapa semuanya itu terjadi?”  “Di manakah Tuhan ketika semuanya itu terjadi?”  atau “Adakah Tuhan itu, bila ada, mengapa terjadi penderitaan dan kejahatan dalam dunia ini?”  Sebuah kesimpulan dilontarkan oleh seorang Filsuf bernama Fridriech Nietzsche yang mengatakan: “Tuhan sudah mati”  dan ini banyak dianut oleh orang-orang di masa kini.  Tuhan tidak eksis lagi, buktinya kejahatan dan penderitaan ada dengan begitu rupa bahkan menanjak intensitas serta kualitasnya.  Manusia semakin menderita.  Manusia semakin punya cara-cara yang kreatif dalam berbuat jahat.  Tuhan sudah mati.  Namun, benarkah demikian?

SS, saya yakin sebagai orang percaya pun, sebagai manusia tentu kita memiliki banyak pertanyaan yang kita ajukan kepada Tuhan saat musibah terjadi.  Kita ingin tahu mengapa orang yang kita kasihi atau diri kita sendiri jatuh sakit, kita ingin tahu mengapa orang yang kita kasihi meninggal dunia secara tragis.  Kita ingin tahu mengapa perang terus berkobar, mengapa terjadi bencana alam ini dan itu di mana-mana, mengapa kejahatan dan ketidakadilan terus merajalela.  Namun seringkali, kita tidak mendapat jawabannya, bukan?  Di saat kita berhadapan dengan tragedi, kesusahan hidup, atau doa yang tak kunjung dijawab, ketikdakmengertian kita terhadap tindakan Tuhan biasanya kita tunjukkan dengan melontarkan pertanyaan tajam: “Mengapa, Tuhan?”  Tuhan menjadi Pribadi yang seolah tidak mampu untuk kita pahami. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *