Renungan Berjalan bersama Tuhan

Ketulusan yang Melindungi Aku

Ketulusan yang Melindungi Aku

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Orang fasik dirobohkan karena kejahatannya, tetapi orang benar mendapat perlindungan karena ketulusannya.” (Amsal 14:32)

Dalam setiap kehidupan kita pasti ada sebab-akibat. “Sebab-akibat” ini bukan hukum karma. Pengertian hukum karma adalah “Tuhan sudah menetapkan kehidupan kita, entah itu baik atau tidak, beruntung atau mengalami kerugian terus, mendapat berkat atau kutuk, menjadi orang beruntung atau sial, kaya atau miskin, baik atau jahat, dan sebagainya. Hal itu telah ditetapkan Allah dan tidak bisa diubah sampai manusia itu meninggalkan dunia ini!” Jelas, pandangan atau kepercayaan ini bertentangan dengan iman Kristen. Allah tidak pernah menetapkan karya ciptaan-Nya yang penuh kemuliaan Allah, menjadi seperti itu! Semua ciptaan Allah dikatakan “amat baik”. Lihat seluruh Kitab Kejadian pasal 1 dan 2.

Hukum karma berbeda dengan “Hukum Sebab-Akibat”; hukum ini seperti hukum alam atau hukum gravitasi bumi: jika ada barang yang kita lepas dari tangan kita, atau kita lempar sejauh tinggi apa pun, pasti barang itu akan jatuh ke bawah. Ini dikarenakan adanya gaya tarik bumi. Demikian juga dalam kehidupan kita sehari-hari, kita akan mengalami hukum sebab-akibat. Hukum yang membuat diri kita menerima apa yang kita lakukan, ada umpan balik dari apa yang kita perbuat kepada orang lain. Kalau di pagi hari, saya ke luar rumah, kemudian bertemu dengan tetangga yang sedang menyapu halamannya, lalu menyapa dengan ramah dan tersenyum, “Selamat pagi, Ibu …,” pasti ia akan menyapa kita juga, dengan tersenyum dan mengatakan, “Pagi juga ….” Mungkin ada tetangga yang lain sikapnya, tidak ramah, ketus, cuek, sombong, tidak peduli dengan tetangga, jarang sekali menyapa, kalaupun menyapa sekadar say hallo… itu pun dengan terpaksa. Namun kalau tetangga itu disapa dengan ramah, lama- kelamaan ia akan luluh dan akhirnya saling menyapa dengan baik.

Namun kalau yang terjadi bukan disambut dengan ramah, melainkan mendapat balasan yang menyakitkan, kata-kata yang kasar, pasti besoknya sudah tidak ada lagi orang yang menyapanya. Kalau hal ini terjadi, ini bukan masalah karma, tetapi masalah sebab-akibat. Itulah yang dimaksudkan oleh Amsal: orang fasik, yaitu orang yang jahat, yang tidak mau mengenal Allah akan hancur karena kejahatannya karena ia menjalani kehidupan yang memang tidak benar. Sebaliknya, orang yang melakukan kebenaran dan takut akan Tuhan akan mendapatkan perlindungan dari orang lain. Kebenaran yang dilakukan adalah ketulusan hati. Jelas ketulusan ini tidak pernah dilakukan oleh orang fasik, yang penuh dengan ketidakjujuran dan kebohongan. Orang yang benar akan terlindungi dengan ketulusannya. Jika orang benar menghadapi masalah, diperlakukan tidak adil, mau dicelakakan, jangan khawatir, karena ketulusan yang ada dalam dirinya akan membuktikan bahwa ia adalah orang benar. Namun orang fasik justru akan jatuh, karena dalam dirinya tidak ada ketulusan, yang berarti juga tidak ada kebenaran. Orang yang benar dimulai dari hati yang tulus dan takut akan Tuhan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *