Khotbah Natal, Khotbah Perjanjian Baru

Khotbah Natal: Allah Murah Hati, Allah Memberi

Allah Murah Hati, Allah Memberi

Titus 3:4-7

oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

Seorang pria sedang memikirkan hadiah apa yang tepat bagi ulang tahun mama mertuanya. Mama mertuanya terkenal kaya raya namun pelit, cerewet plus judes. Akhirnya, pria itu menghadiahkan sebidang tanah di tempat pemakaman umum di kota itu. Mama mertuanya tentu saja terkejut dengan hadiah ini. “Ini bukan apa-apa, Mam, kebetulan ada yang menawarkan dengan harga khusus. Cuman buat persiapan saja, harga tanah di pemakaman khan makin lama makin mahal,” jelas pria itu sambil mencium pipi mama mertuanya. Sang mama mertua tersenyum.

Setahun berlalu, tiba kembali hari ulang tahun sang mama mertua. “Kali ini, kamu bawa kado apa buat aku, Nak?” tanya mama mertua. Pria itu menjawab, “Tidak bawa apa-apa, Mam!”  “Lho, kenapa kamu tidak membawa apa-apa? Dasar menantu tidak tahu diri,” kata sang mertua. “Lho, Mama ini bagaimana sih. Hadiah tahun lalu saja belum Mama pakai, kok sudah minta lagi? Pakai dulu dong, Ma,” balas sang menantu.

Memberi tidak selalu berasal dari kemurahan hati. Ada orang yang memberi dengan terpaksa. Ada pula yang memberi untuk mendapatkan keuntungan kembali berlipat kali ganda. Sebagai contoh, ada orang yang memberikan pinjaman tetapi dengan bunga yang sangat tinggi. Ada pula yang memberi dengan niat mencelakai seperti di dalam kisah tadi. Memberi adalah tindakan yang nilainya ditentukan bukan oleh wujud pemberiannya, tetapi oleh motivasinya.

 

Kemurahan Allah Lahir dari Hati-Nya

Itulah sebabnya ketika menggambarkan tentang Allah yang memberi kepada manusia, Paulus menegaskan sejak awal tentang dimensi motivasi ini. “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita.” Motivasi Allah jelas dipaparkan: kemurahan atau kindness dan kasih-Nya kepada manusia. Kemurahan dan kasih Allah inilah yang menghantar-Nya untuk menyelamatkan manusia.

Kemurnian motivasi ini—kemurahan dan kasih-Nya kepada manusia—juga ditegaskan dengan menunjuk pada kondisi manusia yang menerima pemberian-Nya. “… pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya.” Allah datang untuk mengampuni dosa dan kesalahan kita bukan karena kita pantas menerimanya. Sebaliknya, kita pantas mendapatkan hukuman Allah. Dosa dan kesalahan kita itu pantas dihukum; tetapi Allah memutuskan untuk mengampuni. Inilah pemberian yang keluar dari kemurahan hati Allah, yakni keselamatan manusia.

Mengapa Allah harus menyatakan kemurahan hati dan kasih-Nya dengan menyelamatkan manusia? Karena ada satu hal yang tak dapat diselesaikan oleh manusia. Dosa telah menjadi masalah yang tak mampu diselesaikan manusia. Walaupun manusia menginginkan yang baik, sering kali manusia gagal mewujudkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *