Khotbah Natal, Khotbah Perjanjian Lama

Khotbah Natal: Manusia Bertanya, Raja Turun Tahta

Manusia Bertanya, Raja Turun Takhta

Mazmur 97

oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

Saya rasa bukan kebetulan apabila kita merayakan Natal pada tanggal 25 Desember, beberapa hari menjelang tahun ini berakhir. Sebagai umat Tuhan, ketika kita merayakan Natal, kita juga mendapatkan kesempatan untuk merenungkan perjalanan hidup selama satu tahun ini. Kalau Anda ditanya apakah Anda puas dengan apa yang terjadi di dunia ini, di Indonesia ini. Bagaimana jawaban Anda? Sekarang, berkenaan dengan apa yang terjadi di dalam hidup Anda pribadi, berkenaan dengan pekerjaan dan keluarga Anda, “Puaskah Anda dengan apa yang terjadi di sepanjang tahun ini?”

Banyak dari kita mungkin tidak berani mengatakan bahwa kita sangat puas, atau sangat tidak puas. Kita cenderung untuk memilih yang sedang-sedang saja. “Yah … tidak terlalu memuaskan, tetapi juga tidak terlalu menyedihkan …. Lumayanlah.” Nah, kata lumayan ini yang menjadi tidak jelas. Ada orang yang mengalami kecelakaan dan patah kaki. Orang bertanya kepadanya, “Bagaimana, parahkah?” “Lumayanlah cuman kaki doang yang patah, bukan leher!” Kalau ternyata meninggal dunia, orang akan berkomentar, “Wah … masih lumayan tuh, … daripada cacat seumur hidup.” Hari ini saya tidak ingin mendengar jawaban lumayan. Saya akan mempertajam pertanyaan menjadi demikian:

Berapa banyak hal yang Anda harapkan terjadi di tahun ini namun ternyata tidak terjadi? Berapa banyak hal yang tidak Anda harapkan terjadi namun justru terjadi? Kalau Anda menjawab, “Banyak!” ini berarti memang sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya Anda tidak puas dengan apa yang terjadi di dunia ini, juga di seputar kehidupan Anda.

 

Manusia Tak Puas Maka Bertanya-tanya

Rasa tidak puas sebenarnya sangat manusiawi. Namun, rasa tidak puas ibarat sebilah pisau dengan kedua sisi yang sama tajamnya. Di satu sisi, rasa tidak puas membawa dan mendorong perubahan terjadi di dalam kehidupan umat manusia. Perkembangan teknologi, misalnya, lahir dari rasa tidak puas, sehingga manusia terus berusaha menciptakan yang terbaik. Namun, rasa tidak puas sering kali juga bisa menjadi masalah besar. Rasa tidak puas itu sering kali membawa manusia untuk mencari kesalahan. Kalau tidak menyalahkan orang lain, situasi, dan keadaan, maka ujung-ujungnya adalah menyalahkan Tuhan, bukan? Rasa tidak puas juga sering kali menjadi alasan bagi orang untuk bertindak semaunya. Suami meninggalkan istri, istri lari dari rumah. Remaja dan pemuda melarikan diri menuju kehidupan seks bebas, minuman keras, dan narkoba.

Kalau Anda tidak puas dengan apa yang terjadi pada dunia di sekeliling Anda, juga pada kehidupan pribadi Anda, maka saya punya kabar baik bagi Anda. Anda bukan satu-satunya pribadi yang tidak puas dengan dunia ini. Banyak pribadi juga demikian. Namun, kalau ada satu pribadi yang paling layak kecewa dengan dunia ini, kecewa dengan perilaku manusia, maka pribadi itu adalah Sang Pencipta. TUHAN. TUHAN di dalam bagian Alkitab yang kita baca digambarkan sebagai Raja, artinya penguasa dan pemerintah dunia. Seluruh alam raya tunduk di hadapan-Nya. Gambaran ini terdapat di ayat 2-5.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *