Khotbah Natal, Khotbah Perjanjian Baru

Khotbah Natal: Taat, Dilaknat, Tapi Selamat

Taat, Dilaknat, Tapi Selamat

Lukas 1:26-38

oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

Setiap pesawat akan mendarat, pramugari selalu mengucapkan selamat datang di tempat tujuan, dan kemudian ia memerintahkan agar penumpang tidak mengaktifkan telepon seluler sebelum pesawat betul-betul mendarat di landasan. Belum lama perintah itu diberikan, sudah muncul bunyi telepon seluler mulai dinyalakan. Sebuah fenomena sering terjadi, bukan? Apa sih sulitnya menaati perintah sederhana itu? Mengapa kita sering melanggar perintah itu? Kita mungkin berpikir, “Andai saya tidak menaati perintah itu, emangnya apa sih yang akan terjadi?”

Ketaatan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, apa yang melandasi ketaatan kita? Lampu merah yang menyala menandakan bahwa kita harus berhenti. Mengapa kita berhenti? Jika lembar tagihan kartu kredit sudah datang, maka akan tertulis batas waktu tertentu untuk pembayarannya. Mengapa kita membayar sebelum batas waktu itu? Jika atasan atau bos kita meminta kita melakukan sesuatu, mengapa kita menaati perintahnya?

Ya, betul. Untung rugi. Kita akan lebih mudah menaati sesuatu jika kita merasa bahwa ketaatan itu akan melepaskan kita dari masalah yang tidak perlu. Kita akan lebih mudah menaati sesuatu jika kita sadar bahwa ketidaktaatan akan membawa konsekuensi yang buruk bagi kita. Dengan demikian, ketaatan kita sering kali dilandasi dengan rasa takut terhadap konsekuensi yang buruk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *