Khotbah Natal, Khotbah Perjanjian Baru

Khotbah Natal: Tak Pernah Sendiri, Allah Menyertai

Tak Pernah Sendiri, Allah Menyertai

Yohanes 1:1-14

oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

Seorang pendeta sedang menerima kado yang diberikan oleh beberapa murid Sekolah Minggunya. Anton, anak yang pertama, menyerahkan sebuah kotak kecil kepada sang pendeta. Sambil tersenyum, sang pendeta menerima pemberian itu. Ia tahu bahwa ayah Anton mempunyai toko yang menjual cokelat. Ia pun berkata pada Anton, “Ini isinya pasti permen cokelat ya. Terima kasih.” “Lho, kok Pak Pendeta tahu?” Anton terkejut. Sang pendeta hanya tersenyum. Budi membawa sebuah kotak yang agak panjang. Ketika menerima hadiah Budi, sang pendeta teringat kalau Ayah Budi mempunyai toko bunga. Ia pun berkata, “Terima kasih untuk bunga yang ada di dalam kado ini. Pasti sangat indah.” Budi pun heran, “Lho, kok Pak Pendeta tahu?”

Giliran terakhir, Charlie datang membawa sebuah kotak yang besar. Ia terlihat kesulitan membawa kotak itu sehingga sang pendeta pun mengulurkan tangan. Ketika menyentuh kotak itu, tangan sang pendeta pun basah oleh cairan yang mengalir di bawah kotak. Sang Pendeta ingat bahwa ayah Charlie adalah penjual anggur impor. Ia pun menjilati telunjuknya yang basah sambil berkata, “Terima kasih untuk Anggur yang lezat ini.”

Charlie pun menggeleng bingung. Sang pendeta pun menegaskan sekali lagi, “Ini pasti isinya botol anggur dari ayahmu yang penjual anggur impor itu. Berat karena isinya beberapa botol dan karena kamu tidak hati-hati, maka ada yang pecah.” Sambil berkata demikian, sang pendeta kembali menjilati ujung jarinya yang basah karena memegang kotak itu. Charlie tampak bertambah bingung. Akhirnya ia berkata, “Maaf, Pak Pendeta. Isi kado ini bukan botol anggur.” “Apa isinya?” tanya sang pendeta. Sambil membuka kotak itu, Charlie berkata, “Isinya anak anjing, ia bobok dan pipis tadi, maka kotaknya basah.”

 

Asumsi yang Memengaruhi Relasi

Asumsi, inilah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Secara sederhana asumsi berarti dugaan yang digunakan sebagai dasar berpikir. Ketika berurusan dengan orang lain, maka kita tidaklah netral. Kita mempunyai asumsi tertentu. Bisa saja asumsi kita itu benar, tetapi tidak selamanya benar. Dan sering kali fatal ketika dugaan itu ternyata tidak benar. Dalam perjalanan hidup, tentu saja asumsi ini harus terbuka untuk diuji beberapa kali dengan pengalaman perjumpaan dengan orang lain. Entah asumsi itu benar atau salah akan tampak dengan jelas, sama seperti di dalam kisah tadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *