Khotbah Natal, Khotbah Perjanjian Baru

Khtobah Natal: Berharga Walau Dipandang Sebelah Mata

Berharga Walau Dipandang Sebelah  Mata

Lukas 2:8-20

oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

Anak bawang, begitulah frasa dalam bahasa Indonesia yang hendak menggambarkan orang tertentu yang tidak masuk hitungan atau dianggap belum mengerti apa-apa. Seperti ketika Anda harus bermain sepak bola, tetapi kurang satu orang. Lalu, seseorang dimasukkan ke dalam tim itu hanya untuk membuat jumlah pemain menjadi genap, bukan karena ia berprestasi. Walaupun frasa anak bawang memakai kata anak, arti frasa ini tidak hanya berlaku bagi anak-anak. Seorang dewasa pun bisa menjadi anak bawang di dalam tim kerja di kantornya. Hadir hanya untuk menggenapi jumlah, tidak hadir ya tidak membuat kinerja tim menjadi turun. Seorang suami atau istri bisa saja menjadi anak bawang di rumahnya sendiri karena pasangannyalah yang membuat keputusan dan mengatur segalanya—mulai dari soal keuangan sampai soal pakaian apa yang pantas dikenakan. Seorang anak di dalam keluarga bisa merasakan betapa dirinya sebagai anak bawang ketika suaranya tidak didengarkan oleh anggota keluarga yang lain.

Bagaimana rasanya menjadi anak bawang di kantor, di rumah atau malah di gereja?  Pasti kita merasa tidak nyaman karena tidak mendapatkan penghargaan yang memadai. Ya, manusia memang membutuhkan perasaan berharga di dalam dirinya. Rasa berhargalah yang menopang kehidupan manusia dan membuatnya bertahan hidup bahkan di dalam situasi kehidupan yang sulit sekalipun. Hidup tanpa rasa berharga tentu terasa begitu menyiksa sehingga tak jarang orang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang terasa tidak berharga tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *