Khotbah Perjanjian Baru

“,” (Koma)

Oleh: Pdt. David Kosasih

10:1 Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. 10:2 Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, 10:3 Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, 10:4 Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Matius 10:1–4

Pagi ini saya mau mengenalkan Gunung Kilimanjaro sebagai gunung tertinggi di Benua Afrika yang berlokasi di timur laut Afrika, tepatnya di Tanzania. Gunung Kilimanjaro ini memiliki puncak tertinggi bernama Uhuru Peak yang tingginya mencapai 5.895 meter. Gunung Kilimanjaro dikenal sebagai salah satu dari 7 gunung tertinggi di dunia (dikenal: “The Seven Summits”). Sebagai salah satu yang tertinggi di dunia sudah pasti banyak pendaki dari seluruh dunia datang dan berusaha mendaki untuk menaklukkan puncaknya. Sekitar 35.000 orang mencoba untuk menaklukkan Gunung Kilimanjaro setiap tahunnya, namun hanya sebagian saja yang berhasil mencapai puncak. Tentu saja, jika kita bertanya apa yang diperlukan untuk mendaki gunung, segera kita akan menjawab “sepasang kaki.” Namun Spencer West tentunya tak akan setuju dengan jawaban tersebut, karena penakluk puncak Kilimanjaro ini tidak memiliki kaki. Benar sekali, Spencer West harus melakukan amputasi kaki ketika kecil karena kelainan genetik. Namun ini tak menghalanginya untuk membuktikan kekuatannya dengan mendaki puncak tertinggi di dunia apa adanya. Pada tahun 2012, West bersama dua temannya berhasil mendaki gunung setinggi 19.341 kaki selama empat hari. Meski membutuhkan pertolongan, namun 80 persen perjalanan dilakukan West dengan kedua tangannya. Ketika mencapai puncak, kedua tangannya berdarah dan terluka. Tetapi pengorbanan yang diberikannya sesuai dengan hasil yang didapatkannya. Bahkan, dia melakukan pendakian dengan tujuan mengumpulkan dana untuk memberikan air bersih bagi anak-anak di Afrika.

Kisah Spencer West sangatlah menginspirasi. Jelas ia memiliki kelemahan yaitu kehilangan sepasang kaki. Jelas untuk mendaki gunung hal tersebut akan menjadi halangan yang sangat berat. Tetapi yang pasti, ia tidak menyerah dan tidak menjadikan alasan untuk tidak berhenti dan tidak mencoba. Tiba-tiba saja saya jadi bertanya kepada diri sendiri: “Jika saya menjadi dia, akankah saya juga gigih berjuang?”

Di mata orang lain kita punya masa lalu yang kelam, punya kelemahan dan kegagalan yang tak terlupakan. Tetapi bagaimana menurut pandangan Allah? Saya berharap melalui khotbah awal tahun ini, kita diberikan kekuatan untuk berjuang bersama dengan Allah.

Mari saya bawa kita ke masa lampau, ke sebuah peristiwa yang terjadi dua ribu tahun lalu. Saya membayangkan seperti saat presiden Jokowi duduk di tangga istana dan memperkenalkan para menteri kabinetnya satu persatu kepada publik setelah ia dilantik menjadi presiden untuk periode kedua. Hari itu barangkali Tuhan Yesus juga memanggil satu persatu murid-murid-Nya. Mereka yang sudah beberapa waktu menemani dan bersama-sama dengan-Nya. Saya coba membayangkan Ia memanggil mulai dari Simon Petrus hingga kepada Yudas Iskariot dan menyebut mereka sebagai murid-murid-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *